Jabal Rahmah (Gunung Kasih Sayang)

Bukit yang menjadi saksi dipertemukannya kembali Nabi Adam dan Siti Hawa, setelah 200 tahun terpisah sejak terusirnya mereka dari Surga.

Selesai Sa'i Ber Do’a di Bukit MARWAH

Shafa dan Marwah berjarak sekitar 450 M, menjadi salah satu dari rukun haji dan umrah. Tidak sah Haji dan Umrah seseorang jika tidak melakukan sa’i antara Sofa dan Marwah sebanyak 7 kali.

City Tour ke Jabal Tsur

Di atas Jabal Tsur terdapat sebuah gua, gua tersebut, tertutup dengan sarang laba-laba, dan nampak burung merpati yang sedang bertelur di sarangnya. Padahal Rasulullah SAW bersama Abu Bakar Ashiddiq sedang berlindung di gunung tersebut (Gua Tsur) waktu hendak hijrah ke Madinah menghindari kejaran kafir Quraisy.

Jabal Uhud (Bukut Uhud)

Dilembah bukit Uhud terdapat makam 70 orang syuhada, antara lain Hamzah bin Abdul Muthalib paman Nabi Muhammad SAW.

UMRAH Plus PALESTINA

Peserta fotho bersama dengan Imam Besar Masjid Al Aqsa, sebelum meninggalkan Palestina menuju Makkah Arab Saudi Guna Melaksanakan Ibadah Umroh

Tour EROPA TIMUR

Rombongan BUPATI POLMAN SULBAR, menunjungi beberapa Negara dlm rangkaian Tour ke Eropa Timur, diantaranya : Turki,Italia,Swiz,Jerman,Belanda, dan Belgia.

Gunung Magnet alias Jabal Magnet

Nama Jabal Magnet adalah pemberian dari jamaah asal Indonesia. Orang-orang Arab sendiri menyebut tempat tersebut dengan nama Mantiqotul Baido atau Tanah Putih.

City Tour Kota Madinah

Dalam city tour ini jamaah Umroh diajak mengunjungi Kebun Kurma. Jamaah dapat menikmati buah kurma yang baru dipetik, minum teh khas arab dan berbelanja kurma untuk oleh oleh.

Executive Lounge Bandara Internasional Soekarno Hatta

Calon Jamaah Umrah “Taufiqah Tour” beristirahat di Lounge Bandara Internasional Soekarno Hatta menunggu keberangkatan menuju Arab Saudi dengan pesawat Emyrat.

Haji Qiran

Pengertian Haji Qiran

Haji Qiran Yaitu: Melaksanakan Ibadah  Haji dan Umrah secara bersamaan, dengan demikian prosesi tawaf, Sa'i dan tahallul untuk Haji dan Umrah dilakukan satu kali atau sekaligus. Karena kemudahan itulah Jema'ah dikenakan "Dam" atau denda. yaitu menyembelih seekor kambing atau bila tidak mampu dapat berpuasa 10 hari. Bagi yang melaksanakan Haji Qiran disunnatkan melakukan tawaf Qudum saat baru tiba di Mekah.

Miqat bagi jema'ah yang berada di Madinah ialah Bir Ali (Zulhulaifah). Sedangkan bagi jema'ah yang sudah berada di Mekah miqatnya dapat dilakukan di Tan'im atau Ji'ranah. yang datang ke Mekah pada hari yang mepet ke tanggal 9 Zulhijah, Miqatnya dapat dilakukan diatas pesawat saat melintas daerah miqat.

PELAKSANAAN HAJI QIRAN 
MIQAT DITANAH AIR

Bagi yang memilih miqat ditanah air hendaknya melakukan persiapan ihram untuk haji sabagai berikut:
  • Memotong Kuku.
  • Memotong rambut secukupnya. 
  • Mandi sunnat ihram.
  • Memakai wangi-wangian.
  • Memakai pakaian ihram.
MIQAT di Saudi
Jama'ah haji yang datang ketanah suci lebih awal biasanya akan berangkat duluan ke Madinah. Nanti mendekati "Hari Arafah" 9 DZulhijah baru menuju Mekah. Miqat dilaksanakan ditanah suci yaitu disalah satu tempat. Ditempat Miqat ini jama'ah melakukan hal-hal sebagai berikut :  
  1. Shalat sunnat ihram 2 rakaat, jika mungkin.
  2. Berniat Haji : Labbaika Allahumma' Hajjan.
  3. Diperjalanan ke Mekah banyak-banyak membaca :
"Talbiah" 
لَبَّيْكَ اللَّـهُمَّ لَبَّيْكَ, لَبَّيْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ, إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَشَرِيْكَ لَك 
Labaika Allohumma labaiik, Labaika laa syariikalaka labaiik, Innalhamda wanni’mata laka wal mulk laa  syariikalak”

Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, sesungguhnya segala puji, ni’mat dan segenap kekuasaan adalah milikmu, tidak ada sekutu bagi-Mu."   
Melakukan Tawaf Qudum (Tawaf sunnat waktu baru tiba  di Mekah). Boleh langsung Sa'i Setelah Tawaf Qudum, atau boleh juga sesudah tawaf Ifadah. Jika melakukan Sa'i tidak boleh langsung bertahallul, sampai selesai seluruh kegiatan Ibadah Haji.

    Sesudah tawaf Qudum dan Sa'i jama'ah menunggu waktu pelaksanaan haji yang dimulai tanggal 8 Zulhijah. Dalam waktu menunggu pelaksanaan haji itu, jama'ah Haji Qiran harus tetap mengenakan pakaian Ihram, dan mematuhi semua larangan yang berkenaan dengan ihram.


    PELAKSANAAN HAJI QIRAN 
    1. Tanggal 8 Dzulhijah (pagi), Dari mekah berangkat ke Mina atau langsung ke Arafah.
    2. Tanggal 8 Dzulhijah (Siang-malam Mabit atau menginap di Mina sebelum berangkat ke Arafah, sebagaimana yang dilakukan Rasullulah SAW.
    3. Tanggal 9 Dzulhijah (pagi) Berangkat ke Arafah setelah matahari terbit atau setelah shalat Subuh.
    4. Tanggal 9 Dzulhijah siang-sore: Berdo'a, zikir, tasbih sambil menunggu waktu wukuf pada tengah hari.  Shalat Zuhur dan Ashar di jamak qasar (zuhur 2 rakaat, Ashar 2 rakaat) dilaksanakan pada waktu zuhur. Setelah shalat laksanakan wukuf dengan berdo'a, zikir, talbiyah, istiqfar terus menerus setengah hari sampai waktu Maqrib. 
    5. Tanggal 9 Dzulhijah (sore-malam), Setelah matahari terbenam segera berangkat ke Muzdalifah. Shalat Maqrib dilaksanakan di Muzdalifah di jamak dengan shalat Isya seperti yang dilakukan Rasulullah.
    6. Tanggal 9 Dzulhijah (malam): Shalat Maqrib dan Isya dijamak ta'khir.  Mabit berhenti sejenak di Muzdalifah, paling kurang sampai lewat tengah malam. sambil mengumpulkan krikil untuk melontar Jumrah Aqabah.  Mengumpulkan 7 butir batu krikil untuk melontar "Jumrah Aqabah" besaok pagi. Setelah shalat subuh tanggal 10 Zulhijah 
    7. Tanggal 10 Dzulhijah, : Melontar Jumrah Aqabah 7 kali.  Tahallul awal.  Lanjutkan ke Mekah untuk melakukan tawaf ifadah, Sa'i dan disunatkan tahallul Qubra.  Harus sudah berada kembali di Mina sebelum Magrib.  Mabit di Mina, paling tidak sampai lewat tengah malam.
    8. Tanggal 11 Dzulhijah : Melontar Jumrah Ula, Wusta dan Aqabah masing - masing 7 kali.  Mabit di Mina, paling tidak sejak sebelum Maqrib sampai lewat tengah malam. 
    9. Tanggal 12 Dzulhijah, : Melontar Jumrah Ula, Wusta dan Aqabah waktu subuh masing - masing 7 kali.  Bagi yang Nafar awal, kembali ke Mekah sebelum maqrib, lanjutkan dengan tawaf ifadah dan Sa'i serta Tahallul Qubra bagi yang belum.  Bagi yang Nafar Tsani, mabit di Mina.
    10. Tanggal 13 Dzulhijah (pagi), Bagi yang Nafar Tsani:  Melontar Jumrah Ula, Wusta dan Aqabah masing-masing 7 kali.
    11. Tanggal 13 Dzulhijah (siang-malam), : Tawaf ifadah, Sa'i dan Tahallul Qubra bagi yang belum. Bagi yang sudah melakukan Sa'i sesudah tawaf Qudum (ketika baru tiba di Mekah) tidak perlu Sa'i langsung saja melakukan Tahallul. 
                   Ibadah Haji dan umrah selesai. 

    Rangkaian Do'a Ibadah Haji


    I. DO’A KEBERANGKATAN

        
    A. Do’a Sewaktu berada di atas kendaraan.
    بِسْمِ اللهِ مَجْرَىْ هاَ وَمُرْسَى هاَ إِنَّ رَبىِّ لَغَفُوْرٌ رَحِيْمٌ , وَماَ قَدَرُوْا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالأَرْضُ جَمِيْعاً قَبْضَتُهُ يَوْمَ القِياَمَةِ وَالسَّمَواَتِ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِيْنِهِ سُبْحاَنَهُ وَتَعاَلىَ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ
        B.  Do’a sewaktu kendaraan mulai bergerak
    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ , أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ . سُبْحاَنَ الَّذِى سَخَّرَ لَناَ هَذاَ وَماَكُنَّا لَهُ مُقْرِيْنِيْنَ وَإِناَّ إِلىَ رَبِّناَ لَمُنْقَلِبُوْنَ . أَللَّــهُمَّ إِناَّ نَسْأَلُكَ فىِ سَفَرِناَ هَذاَ البِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ العَمَلِ ماَتَرْضَى . أَللَّـهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْناَ سَفَرَناَ هَذاَ وَاطْوِ عَناَّ بُعْدَهُ . أَللَّـهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فىِ السَّفَرِ وَالخَلِيْفَةُ فىِ الأَهْلِ . أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثاَءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ المَنْظَرِ وَسُوْءِ المُنْقَلَبِ فىِ الماَلِ وَالأَهْلِ 
        C.  Do’a ketika tiba di tempat tujuan.
    أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهاَ وَخَيْرَ أَهْلِهاَ وَخَيْرَ ماَفِيْهاَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهاَ وَشَرِّ أَهْلِهاَ وَشَرِّ ماَفِيْهاَ
        D.   Niat Umrah dan Haji
              1.  Niat Umrah
    لَبَّيْكَ اللَّـهُمَّ عُمْرَةً   atau  نَوَيْتُ العُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهاَ ِللهِ تَعاَلىَ
              2.  Niat Haji
    لَبَّيْكَ اللَّـهُمَّ حَجاًّ atau  نَوَيْتُ الحَجَّ وَأَحْرَمْتُ بِهِ  ِللهِ تَعاَلىَ
         E. Bacaan Talbiyah, Sholawat dan Do’a.
    لَبَّيْكَ اللَّـهُمَّ لَبَّيْكَ , لَبَّيْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ , إنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكَ لاَشَرِيْكَ لَك
             Bacaan Sholawat
    أَللَّـهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
             Do’a sesudah Sholawat
    أَللَّـهُمَّ إِناَّ نَسْأَلُكَ رِضاَكَ وَالجَنَّةَ وَنعُوْذُ بِكَ مِنْ سُخْطِكَ وَالنَّارَ , رَبَّناَ آتِناَ فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ النَّارِ
         F. Do’a memasuki kota Mekkah.
    أَللَّـهُمَّ هَذاَ حَرَمُك وَأَمْنُكَ فَحَرِّمْ لَحْمِى وَدَمِى وَشَعْرِى وَبَشَرِى عَلَى النَّارِ وَآمِنِى مِنْ عَذاَبِكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِباَدَكَ وَاجْعَلْنِى مِنْ اَوْلِياَءِكَ وَأَهْلِ طاَعَتِكَ
         G. Do’a masuk Masjidil Haram.
    أَللَّـهُمَّ أَنْتَ السَّلاَمُ وَمِنْكَ السَّلاَمُ فَحَيِّناَ رَبَّناَ بِالسَّلاَمِ وَأَذْخِلْناَ الجَنَّةَ داَرَ السَّلاَمِ تَباَرَكْتَ رَبَّناَ وَتَعَلَيْتَ ياَ ذاَ الجَلاَلِ وَالإِكْراَمِ , أَللَّـهُمَّ افْتَحْ لىِ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ , بِسْمِ اللهِ وَالحَمْدُ ِللهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ
         H. Do’a ketika melihat Ka’bah.
    أَللَّـهُمَّ زِدْ هَذاَ البَيْتَ تَشْرِيْفاً وَتَعْظِيْماً وَتَكْرِيْماً وَمَهاَبَةً , وَزِدْ مَنْ شَرَّفَهُ وَكَرَّمَهُ مِمَّنْ حَجَّهُ أَوِاعْتَمَرَهُ تَشْرِيفاً وَتَعْظِيْماً وَتَكْرِيْماً وَبِرًّا
          I. Do’a ketika melintasi Maqam Ibrahim.
    رَبِّ أَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لىِ مِنْ لَدُنْكَ سُلْطاَناً نَصِيْراً , وَقُلْ جَآءَ الحَقُّ وَزَهَقَ الباَطِلُ إِنَّ الباَطِلَ كاَنَ زَهُوْقاً
    II. DO’A TAWAF
    Pada setiap awal putaran (pertama s/d ketujuh), berdiri menghadap Hajar Aswad dengan seluruh badan atau miring (sebagian badan) atau menghadap muka saja sambil mengangkat tangan dan membaca :
    بِسْمِ اللهِ وَاللهُ أَكْبَرُ 
    A. Do’a - do'a pada putaran 1 s/d 7
         Do’a putaran ke- 1, di baca mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamai.
    سُبْحاَنَ اللهِ وَالحَمْدُ ِللهِ وَلاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلاَحَوْلَ وَلاَقُوَّةَ إِلاَّ باِللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . أَللَّـهُمَّ إِيْماَناً بِكَ وَتَصْدِيْقاً بِكِتاَبِكَ وَوَفاَءً بِعَهْدِكَ وَاتِّباَعاً لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ . أَللَّـهُمَّ إِنَّى أَسْأَلُكَ العَفْوَ وَالعاَفِيَةَ وَالمُعاَفَاةَ الدَّائِمَةَ فىِ الدِّيْنِ وَالدُّنْياَ وَالأَخِرَةِ وَالفَوْزَ باِلجَنَّةِ وَالنَّجاَةَ مِنَ النَّارِ
    Pada setiap kali sampai di ruku Yamani mengusap nya atau bila tidak mungkin maka mengangkat tangan tanpa di kecup sambil mengucapkan :
    بِسْمِ اللهِ وَاللهُ اَكْبَرُ
    Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, membaca :
    رَبَّناَ آتِناَ فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ النَّارِ
    Dapat di tambah dengan do’a :
    وَأَدْخِلْناَ الجَنَّةَ مَعَ الأَبْراَرِ , ياَعَزِيْزُ ياَغَفَّارُ ياَرَبَّ العاَلَمِيْنَ 
         Do’a putaran ke-2, di baca mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamani.
    أَللَّـهُمَّ إِنَّ هَذاَ ابَيْتَ بَيْتُكَ وَالحَرَمَ حَرَمُكَ وَالأَمْنَ أَمْنُكَ وَالعَبْدَ عَبْدُكَ وَأَناَ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَهَذاَ مَقاَمُ العَائِذِ بِكَ مِنَ النَّارِ فَحَرِّمْ لُحُوْمَناَ وَبَشَرَتَناَ عَلَى النَّارِ . أَللَّـهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْناَ الإِيْماَنَ وَزَيِّنْهُ فىِ قُلُوْبِناَ وَكَرِّهْ إِلَيْناَ الكُفْرَ وَالفُسُوْقَ وَالعِصْياَنَ وَاجْعَلْناَ مِنَ الرَّاشِدِيْنَ , أَللَّـهُمَّ قِنِى عَذاَبِكَ يَوْمَ تَبْعَثُ عِباَدَكَ , أَللَّـهُمَّ ارْزُقْنِىَ الجَنَّةَ بِغَيْرِ حِساَبٍ
    Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, membaca :
    رَبَّناَ آتِناَ فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ النَّارِ
    Dapat di tambah dengan do’a :
    وَأَدْخِلْناَ الجَنَّةَ مَعَ الأَبْراَرِ , ياَعَزِيْزُ ياَغَفَّارُ ياَرَبَّ العاَلَمِيْنَ 
         Do’a putaran ke-3, di baca mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamani.
    أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّكِ وَالشِّرْكِ وَالشِّقاَقِ وَالنِّفاَقِ وَسُوْءِ الأَخْلاَقِ وَسُوْءِ المَنْظَرِ وَالمُنْقَلَبِ فىِ الماَلِ وَالأَهْلِ وَالوَلَدِ . أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ رِضاَكَ وَالجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ . أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ القَبْرِ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ المَحْياَ وَالمَماَتِ
             Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, membaca :
    رَبَّناَ آتِناَ فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ النَّارِ
             Dapat di tambah dengan do’a :
    وَأَدْخِلْناَ الجَنَّةَ مَعَ الأَبْراَرِ , ياَعَزِيْزُ ياَغَفَّارُ ياَرَبَّ العاَلَمِيْنَ
         Do’a putaran ke-4, di baca mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamani.
    أَللَّـهُمَّ اجْعَلْهُ حَجّاً مَبْرُوْراً وَسَعْياً مَشْكُوْراً وَذَنْباً مَغْفُوْراً وَعَمَلاً صاَلِحاً مَقْبُوْلاً وَتِجاَرَةً لَنْ تَبُوْرَ . ياَعاَلِمَ ماَفىِ الصُّدُوْرِ أَخْرِجْنِى ياَ أَللهُ مِنَ الظُّلُماَتِ إِلىَ النُّوْرِ . أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مُوْجِباَتِ رَحْمَتِكَ وَعَزاَئِمَ مَغْفِرَتِكَ وَالسَّلاَمَةِ مِنْ كُلِّ إِثْمٍ وَالغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَالفَوْزَ بِالجَنَّةِ وَالنَّجاَةَ مِنَ النَّارِ . رَبِّ قَنِّعْنِى بِماَرَزَقْتَنِى وَباَرِكْ لىِ فِيْماَ أَعْطَيْتَنِى وَاخْلُفْ عَلَيَّ كُلَّ غاَئِبَةٍ لىِ مِنْكَ بِخَيْرٍ
             Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, membaca :
    رَبَّناَ آتِناَ فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ النَّارِ
             Dapat di tambah dengan do’a :
    وَأَدْخِلْناَ الجَنَّةَ مَعَ الأَبْراَرِ , ياَعَزِيْزُ ياَغَفَّارُ ياَرَبَّ العاَلَمِيْنَ
        Do’a putaran ke-5, di baca mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamani.
     أَللَّـهُمَّ أَظِلَّنِى تَحْتَ ظِلِّ عَرْشِكَ يَوْمَ لاَظِلَّ إِلاَّ ظِلُّكَ وَلاَباَقِيَ إِلاَّ وَجْهُكَ وَأَسْقِنِى مِنْ حَوْضِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شُرْبَةً هَنِيْئَةً مَرِيْئَةً لاَ أَظْمَأُ بَعْدَهاَ أَبَداً . أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ ماَسَأَلَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ ماَاسْتَعاَذَكَ مِنْهُ نَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الجَنَّةَ وَنَعِيْمَهاَ وَماَيُقَرِّبنُِى إِلَيْهاَ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنَ النَّارِ وَماَيُقَرِّبنُِى إِلَيْهاَ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ عَمَلٍ
        Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, membaca :
    رَبَّناَ آتِناَ فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ النَّارِ
        Dapat di tambah dengan do’a :
    وَأَدْخِلْناَ الجَنَّةَ مَعَ الأَبْراَرِ , ياَعَزِيْزُ ياَغَفَّارُ ياَرَبَّ العاَلَمِيْنَ
        Do’a putaran ke-6, di baca mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamani.
    أَللَّـهُمَّ إِنَّ لَكَ عَلَيَّ حُقُوْقاً كَثِيْرَةً فِيْماَبَيْنِى وَبَيْنَكَ وَحُقُوْقاً كَثِيْرَةً فِيْماَبَيْنِى وَبَيْنَ خَلْقِكَ . أَللَّـهُمَّ ماَكاَنَ لَكَ مِنْهاَ فاَغْفِرْهُ لىِ وَماَكاَنَ لِخَلْقِكَ فَتَحَمَّلْهُ عَنِّى وَأَغْنِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَراَمِكَ وَبِطاَعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِواَكَ ياَواَسِعَ المَغْفِرَةِ . أَللَّـهُمَّ إِنَّ بَيْتَكَ عَظِيْمٌ وَوَجْهَكَ كَرِيْمٌ وَأَنْتَ ياَ أَللهُ حَلِيْمٌ كَرِيْمٌ عَظِيْمٌ تُحِبُّ العَفْوَ فاَعْفُ عَنِّى
        Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, membaca :
    رَبَّناَ آتِناَ فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ النَّارِ
        Dapat di tambah dengan do’a :
    وَأَدْخِلْناَ الجَنَّةَ مَعَ الأَبْراَرِ , ياَعَزِيْزُ ياَغَفَّارُ ياَرَبَّ العاَلَمِيْنَ
         Do’a putaran ke-7, di baca mulai dari Hajar Aswad sampai Rukun Yamani.
    أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ إِيْماَناً كاَمِلاً وَيَقِيْناً صاَدِقاً وَرِزْقاً واَسِعاً وَقَلْباً خاَشِعاً وَلِساَناً ذاَكِراً وَحَلاَلاً طَيِّباً وَتَوْبَةً نَصُوْحاً وَتَوْبَةً قَبْلَ المَوْتِ وَراَحَةً عِنْدَ المَوْتِ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً بَعْدَ المَوْتِ وَالعَفْوَ عِنْدَ الحِساَبِ وَالفَوْزَ باِلجَنَّةِ وَالنَّجاَةَ مِنَ النَّارِ بِرَحْمَتِكَ ياَعَزِيْزُ ياَغَفَّارُ , رَبِّ زِدْنِى عِلْماً وَأَلْحِقْنِى بِالصَّالِحِيْنَ
          Diantara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, membaca :
    رَبَّناَ آتِناَ فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ النَّارِ
          Dapat di tambah dengan do’a :
    وَأَدْخِلْناَ الجَنَّةَ مَعَ الأَبْراَرِ , ياَعَزِيْزُ ياَغَفَّارُ ياَرَبَّ العاَلَمِيْنَ
    B. Do’a sesudah Tawaf
    Setelah selesai 7 kali putaran Tawaf, bergeserlah sedikit ke kanan dari arah sudut Hajar Aswad menghadap bagian dinding Ka’bah yang di sebut Multazam, dan berdo’a sesuai harapan/ keinginannya dengan bahasa apapun.
    Salah satu do’a yang dianjurkan adalah sbb :
    أَللّـهُمَّ ياَ رَبَّ البَيْتِ العَتِيْقِ أَعْتِقْ رِقاَبَناَ وَرِقاَبَ آباَئِناَ وَأُمَّهاَتِناَ وَإِخْواَنِناَ وَاَوْلاَدِناَ مِنَ النَّارِ ياَ ذاَ الجُوْدِ وَالكَرَمِ وَالفَضْلِ وَالمَنِّ وَالعَطاَءِ وَالإِحْساَنِ . أَللَّـهُمَّ أَحْسِنْ عاَقِبَتَناَ فىِ الأُمُوْرِ كُلِّهاَ وَأَجِرْناَ مِنْ خِزْيِ الدُّنْياَ وَعَذاَبِ الأَخِرَةِ . أَللَّـهُمَّ إِنِّى عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ واَقِفٌ تَحْتَ باَبِكَ مُلْتَزَمٌ بِأَعْتاَبِكَ مُتَذَلِّلٌ بَيْنَ يَدَيْكَ أَرْجُوْ رَحْمَتَكَ وَأَخْشَى عَذاَبَكَ ياَ قَدِيْمَ الإِحْساَنِ . أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ أَنْ تَرْفَعَ ذِكْرِى وَتَضَعَ وِزْرِى وَتُصْلِحَ أَمْرِى وَتُطَهِّرْ قَلْبِى وَتُنَوِّرْ لىِ قَبْرِى وَتَغْفِرَ لىِ ذَنْبِى وَأَسْأَلُكَ الدَّرَجاَتِ العُلَى مِنَ الجَنَّةِ

    C. Do’a sesudah shalat sunat di Maqam Ibrahim.
    Shalat sunat Tawaf di lakukan di belakang Maqam Ibrahim. Bila tidak memunglinkan, maka di lakukan di mana saja asal di dalam Masjidil Haram.

    Pada shalat sunat tersebut setelah membaca Fatihah raka’at pertama sebaiknya membaca surat Al-Kafirun dan raka’at kedua setelah Fatihah sebaiknya membaca surat Al-Ikhlas.
    Sesudah shalat di anjurkan membaca do’a :
    أَللَّـهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ سِرِّىْ وَعَلاَنِيَّتِىْ فاَقْبَلْ مَعْذِرَتِى وَتَعْلَمُ حاَجَتِى فَأَعْطِنِى سُؤْلىِ وَتَعْلَمُ ماَفىِ نَفْسِى فاَغْفِرْ لىِ ذُنُوْبِى , أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ إِيْماَناً داَئِماً يُباَشِرُ قَلْبِى وَيَقِيْناً صاَدِقاً حَتَّى أَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيْبُنِى إِلاَّ ماَ كَتَبْتَ لىِ وَرَضِّنِى بِماَ قَسَمْتَهُ لىِ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ , أَنْتَ وَلِيِّىْ فىِ الدُّنْياَ وَالأَخْرَةِ تَوَفَّنِى مُسْلِماً وَأَلْحِقْنِى بِالصَّالِحِيْنَ , أَللَّـهُمَّ لاَ تَدَعْ لَناَ فىِ مَقاَمِناَ هَذاَ ذَنْباً إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَلاَ هَمّاً إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَلاَ حاَجَةً إِلاَّ قَضَيْتَهاَ وَيَسَّرْتَهاَ فَيَسِّرْ أُمُوْرَناَ وَاشْرَحْ صُدُوْرَناَ وَنَوِّرْ قُلُوْبَناَ وَاخْتِمْ باِلصَّلِحاَتِ أَعْمَالِناَ , أَللَّـهُمَّ تَوَفَّناَ مُسْلِمِيْنَ وَأَحْيِناَ مُسْلِمِيْنَ وَأَلْحِقْناَ بِالصَّالِحِيْنَ غَيْرَ خَزاَياَ وَلاَ مَفْتُوْنِيْنَ .
     D. Do’a waktu minum air Zamzam.
    أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ عِلْماً ناَفِعاً وَرِزْقاً واَسِعاً وَشِفاَءً مِنْ كُلِّ داَءٍ وَسَقَمٍ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ 
      E. Do’a sesudah shalat sunat Mutlak di Hijir Ismail.
    أَللَّـهُمَّ أَنْتَ رَبِّى لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ خَلَقْتَنِى وَأَناَ عَبْدُكَ وَأَناَ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ ماَاسْتَطَعْتُ , أَعُوزْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ ماَ صَنَعْتُ أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوْءُ بِذَنْبِى فاَغْفِرْلىِ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنوُبَ إِلاَّ أَنْتَ , أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ ماَ سَأَلَكَ بِهِ عِباَدُكَ الصَّالِحُوْنَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ ماَ اسْتَعاَذَكَ مِنْهُ عِباَدُكَ الصَّالِحُوْنَ .
      
    III. DO’A - DO’A DALAM SA’I.
        A.  Do’a hendak mendaki bukit Safa sebelum Sa’i.
    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ أَبْدَأُ بِماَبَدَأَ اللهُ بِهِ وَرَسُوْلُهُ إِنَّ الصَّفاَ وَالمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللهِ , فَمَنْ حَجَّ البَيْتَ أَوِاعْتَمَرَ فَلاَجُناَحَ عَلَيْهِ أَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِماَ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللهَ شاَكِرٌ عَلِيْمٌ .
        B. Do’a di atas bukit Safa ketika menghadap Ka’bah.
    أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ وَِللهِ الحَمْدُ , أَللهُ أَكْبَرُ عَلَى ماَ هَداَناَ وَالحَمْدُ ِللهِ عَلَى ماَ أَوْلاَناَ . لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ , لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ . لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزاَبَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِياَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكاَفِرُوْنَ
        C. Do’a-do’a Sa’i dalam perjalanan 1 s/d 7 .
    Do’a perjalanan ke-1, dari bukit Safa ke bukit Marwah di baca mulai dari bukit Safa sampai pilar hijau.
    أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ , أَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً وَالحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً وَسُبْحاَنَ اللهِ العَظِيْمِ وَبِحَمْدِهِ الكَرِيْمِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً وَمِنَ اللَّيْلِ فاَسْجُدْ لَهُ وَسَبِّحْهُ لَيْلاً طَوِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزاَبَ وَحْدَهُ لاَ شَيْءَ قَبْلَهُ وَلاَ بَعْدَهُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ داَئِمٌ لاَ يَمُوْتُ وَلاَ يَفُوْتُ أَبَداً بِيَدِهِ الخَيْرُ وَإِلَيْهِ المَصِيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
    Diantara dua pilar hijau membaca do’a :
    رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاعْفُ وَتَكَرَّمْ وَتَجاَوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ تَعْلَمُ ماَلاَ نَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ اللهُ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ
    Dan ketika mendekati bukit Marwah, bacalah :
    إِنَّ الصَّفاَ وَالمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللهِ , فَمَنْ حَجَّ البَيْتَ أَوِاعْتَمَرَ فَلاَجُناَحَ عَلَيْهِ أَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِماَ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللهَ شاَكِرٌ عَلِيْمٌ
    Do’a Sa’i perjalanan ke-2, dari bukit Marwah ke bukit Safa di baca mulai dari bukit Marwah sampai pilar hijau.
    أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الحَمْدُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ الواَحِدُ الفَرْدُ الصَّمَدُ الَّذِى لَمْ يَتَّخِذْ صاَحِبَةً وَلاَ وَلَداً وَلَمْ يَكُنْ لَهُ شَرِيْكٌ فىِ المُلُكِ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ وَلِيٌّ مِنَ الذُّلِّ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْراً .أَللَّـهُمَّ إِنَّكَ قُلْتَ فىِ كِتاَبِكَ المُنَزَّلِ أُدْعُوْنِى أَسْتَجِبْ لَكُمْ دَعَوْناَكَ رَبَّناَ فاَغْفِرْ لَناَ كَماَ أَمَرْتَناَ إِنَّاكَ لاَ تُخْلِيْفُ المِيْعاَدَ . رَبَّناَ إِنَّناَ سَمِعْناَ مُناَدِياً يُناَدِى لِلإِيْماَنِ أَنْ آمِنُوْا بِرَبِّكُمْ فَآَمَنّاَ , رَبَّناَ فاَغْفِرْ لَناَ ذُنُوْبَناَ وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِناَ وَتَوَفَّناَ مَعَ الأَبْراَرِ , رَبَّناَ وَأَتِناَ ماَ وَعَدْتَناَ عَلَى رُسُلِكَ وَلاَ تُخْزِناَ يَوْمَ القِياَمَةِ إِنَّكَ لاَ تُخْلِفُ المِيْعاَدَ . رَبَّناَ عَلَيْكَ تَوَكَّلْناَ وَإِلَيْكَ أَنَبْناَ وَإَلَيْكَ المَصِيْرُ . رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ ذُنُوْبَناَ وَ ِلإِخْواَنِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإِيْماَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فىِ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّناَ إِنَّاكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
    Diantara dua pilar hijau membaca do’a :
    رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاعْفُ وَتَكَرَّمْ وَتَجاَوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ تَعْلَمُ ماَلاَ نَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ اللهُ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ .
     Dan ketika mendekati bukit Safa, bacalah :
    إِنَّ الصَّفاَ وَالمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللهِ , فَمَنْ حَجَّ البَيْتَ أَوِاعْتَمَرَ فَلاَجُناَحَ عَلَيْهِ أَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِماَ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللهَ شاَكِرٌ عَلِيْمٌ
    Do’a Sa’i perjalanan ke-3, dari bukit Safa ke bukit Marwah di baca mulai dari bukit Safa sampai pilar hijau.
    أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الحَمْدُ رَبَّناَ أَتْمِمْ لَناَ نُوْرَناَ وَاغْفِرْ لَناَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ . أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الخَيْرَ كُلَّهُ عاَجِلَهُ وَأَجِلَهُ وَأَسْتَغْفِرُكَ لِذَنْبِى وَأَسْأَلُكَ رَحْمَتَكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ
    Diantara dua pilar hijau membaca do’a :
    رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاعْفُ وَتَكَرَّمْ وَتَجاَوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ تَعْلَمُ ماَلاَ نَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ اللهُ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ
    Dan ketika mendekati bukit Marwah, bacalah :
    إِنَّ الصَّفاَ وَالمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللهِ , فَمَنْ حَجَّ البَيْتَ أَوِاعْتَمَرَ فَلاَجُناَحَ عَلَيْهِ أَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِماَ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللهَ شاَكِرٌ عَلِيْمٌ
    Do’a Sa’i perjalanan ke-4, dari bukit Marwah ke bukit Safa di baca mulai dari bukit Marwah sampai pilar hijau :
     أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الحَمْدُ أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ ماَتَعْلَمُ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ ماَ تَعْلَمُ وأَسْتَغْفِرُكَ مِنْ كُلِّ ماَ تَعْلَمُ إِنَّاكَ أَنْتَ عَلاَّمُ الغُيُوْبِ , لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ المَلِكُ الحَقُّ المُبِيْنُ , مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صاَدِقُ الوَعْدِ الأَمِيْنُ . أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ كَماَ هَدَيْتَنِى لِلإِسْلاَمِ أَنْ لاَتَنْزِعَهُ مِنِّى حَتَّى تَتَوَفَّنِى وَأَناَ مُسْلِمٌ , أَللّهُمَّ اجْعَلْ فىِ قَلْبِى نُوْراً وَفىِ سَمْعِى نُوْراً وَفىِ بَشَرِى نُوْراً , أَللَّـهُمَّ اشْرَحْ لىِ صَدْرِى وَيَسِّرْ لىِ أَمْرِى وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَساَوِسِ الصَّدْرِ وَشَتاَتِ الأَمْرِ وَفِتْنَةِ القَبْرِ , أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ ماَ يَلِجُ فىِ اللَّيْلِ وَشَرِّ ماَ يَلِجُ فىِ النَّهاَرِ وَمِنْ شَرِّ ماَ تَهُبُّ بِهِ الرِّياَحُ ياَ أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ . سُبْحاَنَكَ ماَ عَبَدْناَكَ حَقَّ عِباَدَتِكَ ياَ أَللهُ سُبْحاَنَكَ ماَذَكَرْناَكَ حَقَّ ذِكْرِكَ ياَ أَللهُ
    Diantara dua pilar hijau membaca do’a :
    رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاعْفُ وَتَكَرَّمْ وَتَجاَوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ تَعْلَمُ ماَلاَ نَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ اللهُ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ
    Dan ketika mendekati bukit Safa, bacalah :
    إِنَّ الصَّفاَ وَالمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللهِ , فَمَنْ حَجَّ البَيْتَ أَوِاعْتَمَرَ فَلاَجُناَحَ عَلَيْهِ أَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِماَ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللهَ شاَكِرٌ عَلِيْمٌ
    Do’a Sa’i perjalanan ke-5, dari bukit Safa ke bukit Marwah di baca mulai dari bukit Safa sampai pilar hijau :
    أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الحَمْدُ سُبْحاَنَكَ ماَ أَعْلَى شَأْنَكَ ياَ أَللهُ , أَللَّـهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْناَ الإِيْماَنَ وَزَيِّنْهُ فىِ قُلُوْبِناَ وَكَرِّهْ إِلَيْناَ الكُفْرَ وَالفُسُوْقَ وَالعِصْياَنَ وَاجْعَلْناَ مِنَ الرَّاشِدِيْنَ
    Diantara dua pilar hijau membaca do’a :
    رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاعْفُ وَتَكَرَّمْ وَتَجاَوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ تَعْلَمُ ماَلاَ نَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ اللهُ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ
    Dan ketika mendekati bukit Marwah, bacalah :
    إِنَّ الصَّفاَ وَالمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللهِ , فَمَنْ حَجَّ البَيْتَ أَوِاعْتَمَرَ فَلاَجُناَحَ عَلَيْهِ أَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِماَ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللهَ شاَكِرٌ عَلِيْمٌ .
    Do’a Sa’i perjalanan ke-6, dari bukit Marwah ke bukit Safa di baca mulai dari bukit Marwah sampai pilar hijau :
    أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الحَمْدُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزاَبَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِياَّهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكاَفِرُوْنَ . أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ الهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفاَفَ وَالغِنَى , أَللَّـهُمَّ لَكَ الحَمْدُ كاَلَّذِىْ نَقُوْلُ وَخَيْراً مِمَّا نَقُوْلُ , أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ رِضاَكَ وَالجَنَّةَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ سَخَطِكَ وَالنَّارِ وَماَ يُقَرِّبنُِى إِلَيْهاَ مِنْ قَوْلٍ أَوْ فِعْلٍ أَوْ عَمَلٍ . أَللَّـهُمَّ بِنُوْرِكَ اهْتَدَيْناَ وَبِفَضْلِكَ اسْتَغْنَيْناَ وَفىِ كَنَفِكَ وَإِنْعاَمِكَ وَعَطاَئِكَ وَإِحْساَنِكَ أَصْبَحْناَ وَأَمْسَيْناَ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلاَ قَبْلَكَ شَيْءٌ وَالأَخِرُ فَلاَ بَعْدَكَ شَيْءٌ وَالظَّاهِرُ فَلاَ شَيْءَ فَوْقَكَ وَالباَطِنُ فَلاَ شَيْءَ دُوْنَكَ نَعُوْذُ بِكَ مِنَ الفَلَسِ وَالكَسَلِ وَعَذاَبِ القَبْرِ وَفِتْنَةِ الغِنَى وَنَسْأَلُكَ الفَوْزَ بِالجَنَّةِ
    Diantara dua pilar hijau membaca do’a :
    رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاعْفُ وَتَكَرَّمْ وَتَجاَوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ تَعْلَمُ ماَلاَ نَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ اللهُ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ
    Dan ketika mendekati bukit Safa, bacalah :
    إِنَّ الصَّفاَ وَالمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللهِ , فَمَنْ حَجَّ البَيْتَ أَوِاعْتَمَرَ فَلاَجُناَحَ عَلَيْهِ أَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِماَ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللهَ شاَكِرٌ عَلِيْمٌ
    Do’a Sa’i perjalanan ke-7, dari bukit Safa ke bukit Marwah dibaca mulai dari bukit Safa sampai pilar hijau :
    أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ كَبِيْراً وَالحَمْدُ ِللهِ كَثِيْراً , أَللَّـهُمَّ حَبِّبْ إِلَيَّ الإِيْماَنَ وَزَيِّنْهُ فىِ قَلْبِى وَكَرِّهْ إِلَيَّ الكُفْرَ وَالفُسُوْقَ وَالعِصْياَنَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الرَّاشِدِيْنَ
    Diantara dua pilar hijau membaca do’a :
    رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاعْفُ وَتَكَرَّمْ وَتَجاَوَزْ عَمَّا تَعْلَمُ إِنَّكَ تَعْلَمُ ماَلاَ نَعْلَمُ إِنَّكَ أَنْتَ اللهُ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ
    Dan ketika mendekati bukit Marwah, bacalah :
    إِنَّ الصَّفاَ وَالمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللهِ , فَمَنْ حَجَّ البَيْتَ أَوِاعْتَمَرَ فَلاَجُناَحَ عَلَيْهِ أَنْ يَّطَّوَّفَ بِهِماَ وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْراً فَإِنَّ اللهَ شاَكِرٌ عَلِيْمٌ .
        D. Do’a di bukit Marwah setelah selesai Sa’i
    أَللَّـهُمَّ رَبَّناَ تَقَبَّلْ مِنَّا وَعاَفِناَ وَاعْفُ عَنَّا وَعَلَى طاَعَتِكَ وَشُكْرِكَ أَعِنَّا وَعَلَى غَيْرِكَ لاَ تَكِلْناَ وَعَلَى الإِيْماَنِ وَالإِسْلاَمِ الكاَمِلِ جَمِيْعاً تَوَفَّناَ وَأَنْتَ راَضٍ عَنَّا أَللَّـهُمَّ ارْحَمْنِى بِتَرْكِ المَعاَصِى أَبَداً ماَ أَبْقَيْتَنِى وَارْحَمْنِى أَنْ أَتَكَلَّفَ ماَ لاَ يَعْنِيْنِى وَارْزُقْنِى حُسْنَ النَّظَرِ فِيْماَ يُرْضِيْكَ عَنِّى ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
     IV. NIAT HAJI, DO’A BERANGKAT KE ARAFAH DAN DO’A WUKUF.
          A. Niat Haji :
    لَبَّيْكَ اللَّـهُمَّ حَجًّا نَوَيْتُ الحَجَّ وَأَحْرَمْتُ بِهِ ِللهِ تَعاَلىَ
    Bacaan Talbiyah, Sholawat dan Do’a.
    لَبَّيْكَ اللَّـهُمَّ لَبَّيْكَ , لَبَّيْكَ لاَشَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ , إنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالمُلْكَ لاَشَرِيْكَ لَك
     Bacaan Sholawat
    أَللَّـهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ
    Do’a sesudah Sholawat
     أَللَّـهُمَّ إِناَّ نَسْأَلُكَ رِضاَكَ وَالجَنَّةَ وَنعُوْذُ بِكَ مِنْ سُخْطِكَ وَالنَّارَ , رَبَّناَ آتِناَ فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ النَّارِ
         B. Do’a ketika berangkat ke Arafah.
    أَللَّـهُمَّ إِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ وَإِلىَ وَجْهِكَ الكَرِيْمِ أَرَدْتُ فاَجْعَلْ ذَنْبِى مَغْفُوْراً وَحَجِّى مَبْرُوْراً وَارْحَمْنِى وَلاَ تُخَيِّبْنِى إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
         C. Do’a waktu masuk Arafah.
    أَللَّـهُمَّ إِلَيْكَ تَوَجَّهْتُ وَبِكَ اعْتَصَمْتُ وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ أَللَّـهُمَّ اجْعَلْنِى مِمَّنْ تُباَهِى بِهِ اليَوْمَ مَلاَئِكَتَكَ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
         D. Do’a melihat Jabal Rahmah.
    أَللَّـهُمَّ اغْفِرْ لىِ وَتُبْ عَلَيَّ وَأَعْطِنِى سُؤْلِى وَوَجِّهْ لِيَ الخَيْرَ أَيْنَماَ تَوَجَّهْتُ . سُبْحاَنَ اللهِ وَالحَمْدُ ِللهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
         E. Do’a Wukuf.
    (1)أَسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ الَّذِى لآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الحَيُّ القَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ ×100
    (2) لَبَّيْكَ اللَّـهُمَّ لَبَّيْكَ , لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ , إِنَّ الحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَألمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ
    (3) أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ أَللهُ أَكْبَرُ وَ ِللهِ الحَمْدُ  ×3
    (4) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ , لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ, ×100
    (5). لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ أَشْهَدُ أَنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ وَأَنَّ اللهَ قَدْ أَحاَطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْماً
    (6)  أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ, إِنَّ اللهَ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ  ×3
    (7)  بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ , أَلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العاَلَمِيْنَ , الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ , ماَلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ , إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ , إِهْدِناَ الصِّراَطَ المُسْتَقِيْمَ , صِراَطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ المَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّآلِيْنَ . آمِيْنَ . ×3
    (8) بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ , قُلْ هُوَ اللهُ أَحَدٌ , أَللهُ الصَّمَدُ , لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ , وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ. ×100
    (9) صَلَّى اللهُ وَمَلاَئِكَتُهُ عَلَى النَّبِيِّ الأُمِيِّ وَعَلَى أَلِهِ وعَلَيْهِ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ , ×100
    (10)  أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ بِوَجْهِكَ الكَرِيْمِ وَجُوْدِكَ القَدِيْمِ وَبِاِسْمِكَ الأَعْظَمِ أَنْ تُصَلِّيَ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَأَنْ تَغْفِرَ لَناَ وَلِواَلِدَيْناَ وَأَوْلاَدِناَ وَإِخْواَنِناَ وَأَقْرِباَئِناَ وَمَشاَيِخِناَ وَأَصْحاَبِناَ وَأَزْوَاجِناَ وَأَصْدِقاَئِناَ وَلِمَنْ أَوْصاَناَ بِالدُّعاَءِ وَلِمَنْ أَحْسَنَ إِلَيْناَ وَلِمَنْ لَهُ حَقٌّ عَلَيْناَ وَلِمَنْ ظَلَمْناَهُ أَوْ أَسَأْناَ إِلَيْهِ وَلِجَمِيْعِ المُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِماَتِ أَلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَالأَمْواَتِ وَأَنْ تَرْزُقَناَ وَإِيَّاهُمْ خَيْراَتِ الدُّنْياَ وَالأَخِرَةِ وَأَنْ تَحْفَظَناَ وَإِيَّاهُمْ مِنْ جَمِيْعِ بَلاِءِ الدُّنْياَ وَأَهْواَلِ يَوْمِ القِياَمَةِ وَأَنْ تَرْزُقَناَ العُلُوْمَ النَّافِعَةَ وَالأَعْماَلَ الصَّالِحَةَ وَأَنْ تَعْصِمَناَ مِنْ جَمْيِعِ المَعاَصِى الظَّاهِرَةِ وَالباَطِنَةِ وَأَنْ تُسَهِّلَ لَناَ رِزْقاً حَلاَلاً واَسِعاً وَأَنْ تَكِفِيَناَ شَرَّ الأَشْراَرِ مِنَ الإِنْسِ وَالجِنِّ وَالدَّواَبِّ وَغَيْرِهاَ وَأَنْ تَخْتِمَناَ وَإِيَّاهُمْ بِحُسْنِ الخاَتِمَةِ , آمِيْنَ .وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَآَلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ
    Selain do’a wukuf tersebut di atas, ada juga do’a wukuf yang lazim di baca sebagai berikut :
    لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ وَهُوَ حَيٌّ لاَ يَمُوْتُ بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ , أَللَّـهُمَّ اجْعَلْ فىِ قَلْبِى نُوْراً وَفىِ سَمْعِى نُوْراً وَفىِ بَصَرِى نُوْراً وَفىِ لِساَنِى نُوْراً وَعَنْ يَمِيْنِى نُوْراً وَعَنْ يَساَرِى نُوْراً وَمِنْ فَوْقِى نُوْراً وَمِنْ أَماَمِى نُوْراً وَمِنْ خَلْفِى نُوْراً , أَللَّـهُمَّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْ لِى أَمْرِى , أَللَّـهُمَّ لَكَ الحَمْدُ كاَلَّذِى نَقُوْلُ وَخَيْراً مِمَّا نَقُوْلُ , أَللَّـهُمَّ لَكَ صَلاَتِى وَنُسُكِى وَمَحْياَيَ وَمَماَتِى وَإِلَيْكَ مَأَبِى وَإِلَيْكَ ثَواَبِى , أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَساَوِسِ الصَّدْرِ وَشَتاَتِ الأَمْرِ وَعَذاَبِ القَبْرِ , أَللّـهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ ماَ يَلِجُ فىِ اللَّيْلِ وَمِنْ شَرِّ ماَ يَلِجُ فىِ النَّهاَرِ وَشَرِّ ماَ تَهُبُّ بِهِ الرِّياَحُ وَمِنْ شَرِّ بَواَئِقِ الدَّهْرِ , أَللّـهُمَّ إِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ تَحَوُّلِ عاَفِيَتِكَ وَفَجْأَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيْعِ سَخَطِكَ ,  أَللَّـهُمَّ اهْدِنِى بِالهُدَى وَاغْفِرْلىِ فىِ الأَخِرَةِ وَالأُوْلَى ياَ خَيْرَ مَقْصُوْدٍ وَأَسْنَى مَنْزُوْلٍ بِهِ وَأَكْرَمَ مَسْئُوْلٍ ماَلَدَيْهِ أَعْطِنِى العَشِيَّةَ أَفْضَلَ ماَ أَعْطَيْتَ أَحَداً مِنْ خَلْقِكَ وَحُجَّاجِ بَيْتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ , أَللَّـهُمَّ ياَراَفِعَ الدَّراَجاَتِ وَمُنَزِّلَ البَرَكاَتِ وَياَفَطِرَ الأَرَضِيْنَ وَالسَّمَواَتِ , ضَجَّتْ إِلَيْكَ الأَصْواَتُ بِصُنُوْفِ اللُّغاَتِ يَسْأَلُوْنَكَ الحاَجاَتِ وَحاَجَاتِى أَنْ لاَ تَنْساَنِيَ فىِ داَرِ البَلاَءِ إِذْنَسِيَنِى أَهْلُ الدُّنْياَ , أَللَّـهُمَّ إِنَّكَ تَسْمَعُ كَلاَمِى وَتَرَى مَكاَنِى وَتَعْلَمُ سِرِّى وَعَلاَنِيَّتِى وَلاَ يَخْفَى عَلَيْكَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِى , أَناَ البَائِسُ الفَقِيْرُ المُسْتَغِيْثُ المُسْتَجِيْرُ الوَجِلُ المُشْفِقُ المُعْتَرِفُ بِذَنْبِهِ , أَسْأَلُكَ مَسْأَلَةَ المِسْكَيْنِ وَأَبْتَهِلُ إِلَيْكَ ابْتِهاَلَ المُذْنِبِ الذَّلِيْلِ وَأَدْعُوْكَ دُعاَءَ الخاَئِفِ الضَّرِيْرِ مَنْ خَضَعَتْ لَكَ رَقَبَتُهُ وَفاَضَتْ لَكَ عَبْرَتُهُ وَذَلَّ لَكَ جَسَدُهُ وَرَغَمَ لَكَ  أَنْفُهُ أَللَّـهُمَّ لاَ تَجْعَلْ بِدُعاَئِكَ رَبِّ شَقِيّاً وَكُنْ بِى رَءُوْفاً رَحِيْماً ياَ خَيْرَ المَسْئُوْلِيْنَ وَأَكْرَمُ المُعْطِيْنَ , أَللَّـهُمَّ إِنَّكَ جَعَلْتَ لِكُلِّ ضَيْفٍ قِرًى وَنَحْنُ أَضْياَفُكَ فاَجْعَلْ قِراَناً مِنْكَ الجَنَّةَ , أَللّـهُمَّ إِنَّ لِكُلِّ وَفْدٍ جاَئِزَةً وَلِكُلِّ زاَئِرٍ كَراَمَةً وَلِكُلِّ ساَئِلٍ عَطِيَّةً وَلِكُلِّ راَجٍ ثَواَباً وَلِكُلِّ مُلْتَمِسٍ لِماَ عِنْدَكَ جَزاَءً وَلِكُلِّ مُسْتَرْحِمٍ رَحْمَةً وَلِكُلِّ راَغِبٍ إِلَيْكَ زُلْفًى وَلِكُلِّ مُتَوَسِلٍ إِلَيْكَ عَفْواً وَقَدْ وَفَدْناَ إِلىَ بَيْتِكَ الحَراَمِ وَقَفْناَ بِهَذاَ المَشاَعِرِ العِظَمِ وَشَهِدْناَ هَذاَ المَشاَهِدَ الكِراَمَ رَجاَءً لِماَعِنْدَكَ فَلاَتُخَيِّبْ رَجاَءَناَ ياَ أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ , أَللَّـهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِماَتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ الأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَالأَمْواَتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْواَتِ وَياَقَاضِيَ الحاَجاَتِ , أَللَّـهُمَّ انْتَصِرْ لَناَ انْتِصاَرَكَ ِلأَحْباَبِكَ عَلَى أَعْداَئِكَ , أَللَّـهُمَّ لاَتُمَكِّنِ الأَعْداَءَ فِيْناَ وَلاَ مِنَّا وَلاَ تُسَلِّطْهُمْ عَلَيْناَ بِذُنُوْبِناَ , أَللَّـهُمَّ أَمِنْ فىِ أَوْطاَنِناَ وَأَصْلِحْ أَئِمَّتَناَ وَاجْعَلْ وُلاَةَ أُمُوْرِناَ فِيْمَنْ خاَفاَكَ وَاتَّقَاكَ ياَرَبَّ العاَلَمِيْنَ , أَللَّـهُمَّ أَصْلِحْ جَمِيْعَ وُلاَةِ المُسْلِمِيْنَ وَانْصُرِ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ  وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِياَ بَلْدَةً أَمِنَةً مُطْمَئِنَّةً وَساَئِرَ بُلْداَنِ المُسْلِمِيْنَ , أَللَّـهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلاَءَ وَالبَلاَءَ  وَالوَباَءَ وَالفَحْشاَءَ وَالمُنْكَرَ وَألبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّداَئِدَ وَالمِحَنَ ماَ ظَهَرَ مِنْهاَ وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ إِنْدُوْنِيْسِياَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْداَنِ المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ , رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَ ِلإَخْواَنِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإِيْماَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فىِ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّناَ إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ , رَبَّناَ ظَلَمْناَ أَنْفُسَناَ وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَناَ وَتَرْحَمْناَ لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخاَسِرِيْنَ رَبَّناَ هَبْ لَناَ مِنْ أَزْواَجِناَ وَذُرِّياَّتِناَ قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْناَ لِلْمُتَّقِيْنَ إِماَماً , رَبَّناَ أَتِناَ فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وِفىِ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وِقِناَ عَذاَبَ النَّارِ , آمِيْنَ . وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ وَالحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العاَلَمِيْنَ
    V. DO’A DI MUZDALIFAH DAN DI MINA.
        A. Do’a ketika sampai di Muzdalifah.
    أَللَّـهُمَّ إِنَّ هَذِهِ مُزْدَلِفَةُ جُمِعَتْ فِيْهاَ أَلْسِنَةٌ تَسْأَلُكَ حَواَئِجَ مُتَنَوِّعَةً فاَجْعَلْنِى مِمَّنْ دَعاَكَ فاَسْتَجَبْتَ لِهُ وَتَوَكَّلَ عَلَيْكَ فَكَفَّيْتَهُ ياَ اَرْحَمَ الرَّحِمْيْنَ
        B. Do’a ketika sampai di Mina.
    أَللَّـهُمَّ هَذاَ مِنَى فاَمْنُنْ عَلَيَّ بِماَ مَنَنْتَ بِهِ عَلَى أَوْلِياَئِكَ وَأَهْلِ طاَعَتِكَ
        C. Do’a melontar Jamrah.
             Setiap melontar 1 Jamrah 7x lontaran kerikil dan di anjurkan berdo’a :
    بِسْمِ اللهِ أَللهُ اَكْبَرُ رَجْماً لِلشَّياَطِيْنِ وَرِضاً لِلرَّحْمَنِ , أَللَّـهُمَّ اجْعَلْهُ حَجًّا مَبْرُوْراً وَسَعْياً مَشْكُوْراً
        D. Do’a setelah melontar tiga Jamrah.
    أَلحَمْدُ ِللهِ حَمْداً كَثِيْراً طَيِّباً مُباَرَكاً فِيْهِ .أَللَّـهُمَّ لاَ أُحْصِى ثَناَءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَماَ أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ , أَللَّـهُمَّ إِلَيْكَ أَفَضْتُ وَمِنْ عَذاَبِكَ أَشْفَقْتُ وَإِلَيْكَ رَغِبْتُ وَمِنْكَ رَهِبْتُ فاَقْبَلْ نُسُكِى وَأَعْظِمْ أَجْرِى وَارْحَمْ تَضَرُّعِى وَاقْبَلْ تَوْبَتِى وَأَقِلَّ عَثْرَتِى وَاسْتَجِبْ دَعْوَتِى وَأَعْطنِى سُؤْلِى , أَللَّـهُمَّ رَبَّناَ تَقَبَّلْ مِنَّـا  وَلاَ تَجْعَلْناَ مِنَ المُجْرِمِيْنَ وَأَدْخِـلْناَ فىِ عِباَدِكَ الصَّالِحِيْنَ  ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
    VI. DO’A TAWAF WADA’ DAN DO’A SESUDAH TAWAF WADA’.
    Do'a Tawaf Wada' dan do'a sesudahnya 

    Thawaf wada’ adalah sebagai penghormatan terakhir pada Masjidil Haram. Jadinya thawaf ini adalah amalan terakhir bagi orang yang menjalankan haji sebelum ia meninggalkan Mekkah, tidak ada lagi amalan setelah itu.
    Dari  Ibnu ‘Abbas, ia berkata,
    أُمِرَ النَّاسُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ عَهْدِهِمْ بِالْبَيْتِ ، إِلاَّ أَنَّهُ خُفِّفَ عَنِ الْحَائِضِ
    “Manusia diperintahkan menjadikan akhir amalan hajinya adalah di Baitullah (dengan thowaf wada’, pen) kecuali hal ini diberi keringanan bagi wanita haidh.” (HR. Bukhari no. 1755 dan Muslim no. 1328).

    Thawaf wada’ ini wajib menjadi akhir amalan orang yang berhaji di Baitullah dan ia tidak boleh lagi tinggal lama setelah itu. Jika ia tinggal lama setelah itu, thowaf wada’nya wajib diulangi. Adapun jika diamnya sebentar seperti karena menunggu rombongan, membeli makanan atau ada kebutuhan lainnya, maka itu tidaklah masalah. Begitu pula jika ada yang belum menunaikan sa’i hajinya, maka ia boleh menjadikan sa’inya setelah thowaf wada’. Karena melakukan sa’i hanyalah sebentar saja tidak membutuhkan waktu lama. Sedangkan Sholat sunnah 2 rokaat di Multazam adalah bagian dari sunnahnya Thawaf. Adapun do’a setelah Thawaf Wada’ sebagai berkut:
    Bagi penduduk Mekkah tidak diwajibkan thowaf wada’. Begitu pula bagi orang yang berumroh, tidak diwajiban thowaf wada’ karena tidak ada dalil yang menjelaskannya sebagaimana pendapat jumhur ulama, yaitu Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah.
    Bagi yang telah selesaikan menunaikan seluruh manasik, segeralah pulang dan kembali pada keluarganya, karena demikian mendapatkan pahala yang besar dan inilah yang biasa dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,
    السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ
    “Safar adalah bagian dari adzab (siksa). Ketika safar salah seorang dari kalian akan sulit makan, minum dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927).
    Semoga Allah menjadikan perjalanan haji kita penuh barokah dan menuai haji mabrur yang tiada balasan mulia selain Surga.

          A.  Do’a Tawaf Wada’.
    بِسْمِ اللهِ أَللهُ أَكْبَرُ سُبْحاَنَ اللهِ وَالحَمْدُ ِللهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ العَلِيِّ العَظِيْمِ , وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , أَللَّـهُمَّ إِيْماَناً بِكَ وَتَصْدِيْقاً بِكِتاَبِكَ وَوَفاَءً بِعَهْدِكَ وَاتِّباَعاً لِسُنَّةِ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ , إِنَّ الَّذِى فَرَضَ عَلَيْكَ القُرْآنَ لَرَآدُّكَ إِلىَ مَعَادٍ , ياَ مُعِيْدُ أَعْدْنِى ياَ سَمِيْعُ أَسْمِعْنِى ياَجَبَّارُ اجْبُرْنِى ياَ سَتَّارُ اسْتُرْنِى ياَ رَحْمَنُ ارْحَمْنِى ياَ رَدَّادُ ارْدُدْنِى إِلىَ بَيْتِكَ هَذاَ وَارْزُقْنِىَ العَوْدَ ثُمَّ العَوْدَ كَرَّاتٍ بَعْدَ مَرَّاتٍ تاَئِبُوْنَ عاَبِدُوْنَ ساَئِحُوْنَ لِرَبِّناَ حاَمِدُوْنَ , صَدَقَ اللهُ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزاَبَ وَحْدَهُ , أَللَّـهُمَّ احْفَظْنِى عَنْ يَمِيْنِى وَعَنْ يَساَرِى وَمِنْ قُدَّامِى وَمِنْ وَراَءِ ظَهْرِى وَمِنْ فَوْقِى وَمِنْ تَحْتِى حَتَّى تُوَصِّلَنِى إِلىَ أَهْلِى وَبَلَدِى , أَللَّـهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْناَ السَّفَرَ وَاطْوِ لَناَ الأَرْضَ , أَللَّـهُمَّ أَصْحَبْناَ فىِ سَفَرِناَ وَاخْلُفْناَ فىِ أَهْلِناَ ياَ أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ وَياَ رَبَّ العاَلَمِيْنَ
         B. Do’a sesudah Tawaf Wada’.
    أَللَّـهُمَّ إِنَّ البَيْتَ بَيْتُكَ وَالعَبْدَ عَبْدُكَ وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَّتِكَ حَمَلْتَنِى عَلَى ماَ سَخَّرْتَ لىِ مِنْ خَلْقِكَ حَتَّى صَيَّرْتنَِى إِلىَ بِلاَدِكَ وَبَلَّغْتَنِى بِنِعْمَتِكَ حَتَّى أَعَنْتَنِى عَلَى قَضاَءِ مَناَسِكَكَ , فَإِنْ كُنْتَ عَنِّى فاَزْدَدْ عَنِّى رِضاً وَإِلاَّ فَمُنَّ الآنَ عَلَيَّ قَبْلَ تَبَاعُدِى عَنْ بَيْتِكَ هَذاَ أَواَنُ انْصِراَفىِ إِنْ أَذِنْتَ لىِ غَيْرَ مُسْتَبْدِلٍ بِكَ وَلاَ بِبَيْتِكَ وَلاَ راَغِبٍ عَنْكَ وَلاَ عَنْ بَيْتِكَ , أَللَّـهُمَّ أَصْحِبْنِى العاَفِيَةَ فىِ بَدَنِى وَالعِصْمَةَ فىِ دِيْنِى وَأَحْسِنْ مُنْقَلَبِى وَارْزُقْنِى طاَعَتَكَ أَبَداً ماَ أَبْقَيْتَنِى وَاجْمَعْ لىِ خَيْرَيِ الدُّنْياَ وَالأَخِرَةِ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ , أَللَّـهُمَّ لاَ تَجْعَلْ هَذاَ أَخِرَ العَهْدِ بِبَيْتِكَ الحَراَمِ وَإِنْ جَعَلْتَهُ أَخِرَ العَهْدِ فَعَوِّضْنِى عَنْهُ الجَنَّةَ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ , آمِيْنَ ياَ رَبَّ العاَلَمِيْنَ .
    VII. DO’A-DO’A ZIARAH DI MADINAH.
          A. Do’a masuk Masjid Nabawi
    بِسْمِ اللهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُوْلِ اللهِ , رَبِّ أَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لىِ مِنْ لَدُنْكَ سُلْطاَناً نَصِيْراً , أَللَّـهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ , وَاغْفِرْ لىِ ذُنُوْبِى وَافْتَحْ لىِ أَبْواَبَ رَحْمَـِكَ وَأَدْخِلْنِى فِيْهاَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
         B. Do’a memberi salam ketika berada di makam  Rosulullah Saw.
    أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَرَسُوْلَ اللهِ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَنَبِيَّ اللهِ , ياَصَفْوَةَ اللهِ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَحَبِيْبَ اللهِ
    أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ , وَأَنَّكَ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ , وَأَشْهَدُ أَنَّكَ بَلَّغْتَ الرِّساَلَةَ وَأَدَّيْتَ الأَماَنَةَ وَنَصَحْتَ الأُمَّةَ وَجاَهَدْتَ فىِ سَبِيْلِ اللهِ فَصَلَّى اللهُ عَلَيْكَ صَلاَةً داَئِمَةً إِلىَ يَوْمِ الدِّيْنِ
    أَللَّـهُمَّ آتِهِ الوَسِيْلَةَ وَألفَضِيْلَةَ وَألدَّرَجَةَ الرَّفِيْعَةَ وَابْعَثْهُ مَقاَماً مَحْمُوْداً نِالَّذِى وَعَدْتَهُ إِنَّكَ لاَ تُخْلِيْفُ المِيْعاَدَ
         C. Memberi salam kepada Abu Bakar  Siddiq Ra.
    أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَخَلِيْفَةَ رَسُوْلِ اللهِ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَصاَحِبَ رَسُوْلِ اللهِ فىِ الغاَرِ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَمَنْ أَنْفَقَ ماَلَهُ كُلَّهُ فىِ حُبِّ اللهِ وَحُبِّ رَسُوْلِهِ . جَزاَكَ اللهُ عَنْ أُمَّةِ رَسُوْلِ اللهِ خَيْرَ الجَزاَءِ , وَلَقَدْ خَلَفْتَ رَسُوْلَ اللهِ أَحْسَنَ الخَلَفِ , وَسَلَكْتَ طَرِيْقَهُ وَمِنْهاَجَهُ خَيْرَ سُلُوْكٍ وَنَصَرْتَ الإِسْلاَمَ وَوَصَلْتَ الأَرْحاَمَ وَلأَمْ تَزَلْ قاَئِماً بِالحَقِّ حَتَّى أَتاَكَ اليَقِيْنُ , فاَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكاَتُهُ
         D. Memberi Salam kepada Umar bin Khatab Ra.
    أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَمُظْهِرَ الإِسْلاَمِ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَفَرُوْقُ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَمَنْ نَطَقَتْ بِالصَّواَبِ وَكَفَلْتَ الأَيْتاَمَ وَوَصَلْتَ الأَرْحاَمَ وَقَوِيَ بِكَ الإِسْلاَمُ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ وَرَحْمَةُ اللهِ
         E.  Do’a ketika di Raudah.
    بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ أَلحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العاَلَمِيْنَ حَمْداً يُواَفِى نِعمَهُ وَيُكاَفئُ مَزِيْدَهُ , ياَرَبَّناَ لَكَ الحَمْدُ كَماَ يَنْبَغِى لِجَلاَلِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطاَنِكَ , وَصلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ , أَللَّـهُمَّ اغْفِرْ لىِ ذُنُوْبِى وَلِوَلِدَيَّ وَأَجْداَدِى وَجَدَّتِى وَأَقاَرِبِى وَإِخْواَنِى وَمَشاَيِخِى وَلِجَمِيْعِ المُؤْمِنيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِماَتِ الأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَالأَمْواَتِ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ . أَللَّـهُمَّ إِنَّكَ قُلْتَ وَقَوْلُكَ الحَقُّ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْظَلَمُوْا أَنْفُسَهُمْ جَآءُوْكَ فاَسْتَغْفَرُوْا اللهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوْا اللهَ تَوَّاباً رَحِيْماً .
    أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ أَنْ تُشَفِّعَ فِيَّ نَبِيَّكَ وَرَسُوْلَكَ مُحَمَّداً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ لاَيَنْفَعُ ماَلٌ وَلاَ بَنُوْنَ إِلاَّ مَنْ أَتَى اللهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ , وَأَنْ تُوْجِبَ لِيَ المَغْفِرَةَ كَماَ أَوْجَبْتَهاَ لِمَنْ جَآءَهُ فىِ حَياَتِهِ , أَللَّـهُمَّ اجْعَلْهُ أَوَّلَ الشَّافِعِيْنَ وَأَنْجَحَ السَّائِلِيْنَ وَأَكْرَمَ الأَوَّلِيْنَ وَالأَخِرْيِنَ بِمَنِّكَ وَكَرَمِكَ ياَ أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ . أَللَّـهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ إِيْماَناً كاَمِلاً وَيَقِيْناً صاَدِقاً حَتَّى أَعْلَمَ أَنَّهُ لاَ يُصِيْبُنِى إِلاَّ ماَكَتَبْتَ لىِ وَعِلْماً ناَفِعاً وَقَلْباً خاَشِعاً وَلِساَناً ذَاكِراً وَرِزْقاً واَسِعاً وَحَلاَلاً طَيِّباً وَعَمَلاً صاَلِحاً مَقْبُوْلاً وَتِجاَرَةً لَنْ تَبُوْرَ . أَللَّـهُمَّ اشْرَحْ صُدُوْرَناَ وَاسْتُرْ عُيُوْبَناَ وَاغْفِرْ ذُنُوْبَناَ وَآمِنْ خَوْفَناَ وَاخْتِمْ بِالصَّالِحاَتِ أَعْماَلَناَ وَتَقَبَّلْ زِياَرَتَناَ وَرُدَّناَ مِنْ غُرْبَتِناَ إِلىَ أَهْلِناَ وَأَوْلاَدِناَ ساَلِمِيْنَ غاَنِمِيْنَ غَيْرَ خَزاَياَ وَلاَ مَفْتُوْنِيْنَ وَاجْعَلْناَ مِنْ عِباَدِكَ الصَّالِحَيْنَ مِنَ الَّذِيْنَ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُوْنَ , رَبَّناَ لاَ تُزِغْ قُلُوْبَناَ بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَناَ وَهَبْ لَناَ مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ , رَبِّ اغْفِرْ لىِ وَلِوَلِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ يَوْمَ يَقُوْمُ الحساَبُ . سُبْحاَنَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّايَصِفُوْنَ وَسَلاَمٌ عَلَى المُرْسَلِيْنَ وَالحَمْدُ ِللهِ رَبِّ العاَلَمِيْنَ
        F. Do’a memberi salam wakti ziarah di Baqi’.
    أَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ داَرَ قَوْمٍِ مُؤْمِنِيْنَ , وَأَتاَكُمْ ماَتُوْعَدُوْنَ غَذاً مُؤَجِّلِيْنَ وَإِناَّ إِنْ شاَءَ اللهُ بِكُمْ لاَحِقُوْنَ , أَللَّـهُمَّ اغْفِرْ ِلأَهْلِ البَقِيْعِ
         G. Memberi salam pada Sayyidina Usman bin Affan ra
    أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَذاَ النُّوْرَيْنِ عُثْماَنَ بِنْ عَفَّانَ , أَلسَّلاَمُ عَليْكَ ياَثاَلِثَ الخُلَفاَءِالرَّاشِدِيْنَ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَمُجَهِّزَ جَيْشِ العُسْرَةِ بِالنَّقْدِ وَالعَيْنِ وَجاَمِعَ القُرْآنِ بَيْنَ الدَّفْتَيْنِ , جَزاَكَ اللهُ عَنْ أُمَّةِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ الجَزاَءِ , أَللَّـهُمَّ ارْضَ عَنْهُ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ وَأَكْرِمْ مَقاَمَهُ وَأَجْزِلْ ثَواَبَهُ , آمِيْنَ .
         H. Salam kepada Sayyidina Hamzah ra. di Uhud.
    أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَعَمَّ النَّبِيِّ سَيِّدَناَ حَمْزَةَ بْنَ عَبْدِ المُطَلِّبِ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَ أَسَدَ اللهِ وَأَسَدَ رَسُوْلِ اللهِ , أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَسَيِّدَ الشُّهَداَءِ
         I. Salam kepada para Syuhada di Uhud.
    أَلسَّلاَمُ عَلَيْكَ ياَشُهَداَءَ أُحُدٍ , أَللَّـهُمَّ اجْزِهِمْ عَنِ الإِسْلاَمِ وَأَهْلَهُ أَفْضَلَ الجَزاَءِ وَارْفَعْ دَرَجاَتِهِمْ وَأَكْرِمْ مَقاَمَهُمْ بِفَضْلِكَ وَكَرَمِكَ ياَ أَكْرَمَ الأَكْرَمِيْنَ .
        J. Do’a meninggalkan Madinah.
    أَللَّـهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَلاَ تَجْعَلْهُ آخِرَ العَهْدِ بِنَبِيِّكَ وَحُطَّ أَوْزاَرِى بِزِياَرَتِهِ وَأَصْحِبْنِى فىِ سَفَرِى السَّلاَمَةَ وَيَسِّرْ رُجُوْعِى إِلىَ أَهْلِى وَوَطَنِى ساَلِماً ياَأَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ  ....
    وَاللهُ أَعْلَمُ بِالصَّواَبِ

    Haji Tamattu'

    Urut-Urutan Haji Tamattu'

    Kedatangan calon jama’ah haji Indonesia di Jeddah ada dua gelombang yaitu :

    Gelombang I, setelah tiba di Jeddah melanjutkan perjalanannya ke Madinah (yang tiba sebelum tanggal 25 Dzul Qo’dah).

    Gelombang II, setelah tiba di Jeddah langsung ke Mekkah (yang tiba sesudah tanggal 25 Dzul qo’dah). 

    A.  HAJI TAMATTU' GELOMBANG I

    Di Jeddah.

    Setelah sampai di Jeddah calon jama’ah menunggu waktu untuk diberangkatkan ke Madinah.

    Di Madinah.

    Selama di Madinah mengerjakan :
    1. Shalat Arbain (40 waktu) di Masjid Nabawi.
    2. Ziarah ketempat-tempat bersejarah, bila keadaan memungkinkan.
    Hari terakhir di Madinah :
    1.  Ziarah wa’da ke makam Rasullulah SAW.
    2.  Mandi dan mengenakan pakaian ihram di pondokan.
    3. Berangkat menuju Bir Ali.
    Di Bir Ali
    1. Shalat sunat ihram dua raka’at.
    2. Mulai Umrah dan mengucapkan niat Umrah.
    3. Melanjutkan perjalanan menuju Mekkah dengan memperbanyak talbiyah.
    Di Mekkah.

    Masuk Mekkah
    Menuju ke Masjidil Haram: 
    1. Lakukan Thawaf
    2. Sa’i 
    3. Lalu Tahallul:
    • Menggunting rambut kepala paling sedikit 3 helai.
    • Dengan demikian selesailah umrah yang dimulai dari Bir Ali.
    • Dapat memulai membayar Dam.
    Tinggal di Mekkah.
    1. Setelah selesai melakukan umrah sunnah, jama’ah tinggal di Mekkah menunggu sampai datangnya tanggal 8 Dzul Hijjah.
    2. Selama tinggal di Mekkah memperbanyak ibadah dengan melakukan :
    • Shalat Jama’ah di Masjidil Haram tiap waktu.
    • Tawaf Sunat
    • Berdiam di Masjid (I’tikaf)
    • Membaca Al-Qur’an
    • Umrah sunat dari Tan’im atau Ji’ranah.
    Meninggalkan Mekkah.
    1. Persiapan menuju Arafah (tanggal 8 Dzul Hijjah) dengan melakukan:
    • Mandi dan Berwudlu.
    • Berpakaian Ihram
    • Shalat sunat ihram dua raka’at.
    • Mulai ibadah Haji dengan mengucap niat.
      2. Sepanjang perjalanan mambaca Talbiyah.

    Di Arafah.

    Masuk Arafah.

    • Bermalam di Arafah menunggu waktu Wuquf.

    Wuquf (Tanggal 9 Dzul Hijjah).:
    1. Mulai Wuquh dengan shalat Dzuhur dan Ashar dijama’ dan Qoshor, sebaiknya berjama’ah.
    2. Memperbanyak ibadah antara lain : membaca doa Wuquf, membaca Al-Qur’an dan Berdzikir.
    3. Bersiap-siap untuk mengakhiri Wuquf dan meninggalkan Arafah.
    4. Setelah selesai shalat Maghrib dan Isya’ yang di Jama’ dan di Qoshor, naik kendaraan.
    5. Mengakhiri Wukuf.
    Di Mudzdalifah.
    1. Mencari kerikil sebanyak 49 atau 70 butir.
    2. Mabid (menunggu lewat tengah malam).

    Di Mina.
    1. Selama di Mina kewajiban Jama’ah Haji adalah melontar.
    2. Pada tanggal 10 Dzul Hijjah hanya melontar Jumrah Aqobah saja lalu bertahallul awal dengan memotong rambut kepala paling sedikit 3 helai lalu berganti pakaian biasa.
    3. Dengan selesai tahallul awal ini maka seluruh larangan ihram telah gugur kecuali menggauli istri.
    4. Setelah tahallul awal kalau keadaan mengizinkan boleh pergi ke Mekkah untuk melakukan tawaf ifadlah dan sa’i sebelum terbenam Matahari, tetapi harus kembali ke Mina.
    5. Pada tanggal 11 dan 12 Dzul Hijjah melontar Jumrah ‘Ula, Wustho dan Aqobah secara berurutan, kemudian kembali ke Mekkah. Itulah yang dinamakan Nafar Awal. Bagi jama’ah haji yang pada tanggal 13 Dzul Hijjah masih berada di Mina diharuskan melontar ketiga jumrah itu lagi, lalu kembali ke Mekkah. Itulah yang dinamakan nafar Tsani.
    Kembali ke Mekkah.
    1. Menuju Masjidil Haram untuk melakukan Tawaf Ifadlah (Tawaf Rukun) dan Sa’i, bagi yang belum melakukannya.
    2. Dengan selesainya Tawaf Ifadlah dan Sa’i, maka selesailah pelaksanaan ibadah haji (Tahallul Tsani).
    3. Pada hari terakhir di Mekkah sebelum berangkat ke Jedah, agar melakukan Tawaf Wada’ (Tawaf Perpisahan).
    B.  HAJI TAMATTU' GELOMBANG II

    Haji Tamattu Gelombang II

    Bagi calon jama’ah haji yang tiba di Jeddah sesudah tanggal 25 Dzul Qo’dah (Gelombang II).

    Di Jeddah.
    Setelah sampai di Jeddah calon jama’ah menunggu waktu untuk diberangkatkan ke Mekkah.

    Meninggalkan Jeddah.
    1. Mandi dan mengenakan pakaian Ihram di Jeddah.
    2. Shalat sunat Ihram dua rakaat.
    3. Mulai umrah dengan mengucapkan niat.
    4. Naik Kendaraan.
    Menuju Mekkah dengan membaca Talbiyah.

    Di Mekkah.

    Masuk Mekkah
    Masuk Masjidil Haram melewati Babussalam.
    1. Thawaf:" Selesai thawaf berdoa di Multazam dilanjutkan "
    2. Lakukan Sa'i
    3. Lalu Tahallul:
    • Menggunting rambut kepala paling sedikit 3 helai.
    • Dengan demikian selesailah umrah yang dimulai dari Jeddah.
    • Dapat mulai membayar Dam.
    Tinggal di Mekkah.
    Setelah selesai melakukan umrah sunnah, jama’ah tinggal di Mekkah menunggu sampai datangnya tanggal 8 Dzul Hijjah. Selama tinggal di Mekkah memperbanyak ibadah dengan melakukan :
    • Shalat Jama’ah di Masjidil Haram tiap waktu.
    • Tawaf Sunat
    • Berdiam di Masjid (I’tikaf)
    • Membaca Al-Qur’an
    • Umrah sunnah dari Tan’im atau Ji’ranah.
    Meninggalkan Mekkah.
    Persiapan menuju Arafah (tanggal 8 Dzul Hijjah).
    1. Mandi dan Berwudlu.
    2. Berpakaian Ihram.
    3. Shalat sunat ihram dua raka’at.
    4. Mulai ibadah Haji dengan mengucap niat.
    Sepanjang perjalanan ke Arafah mambaca Talbiyah.

    Di Arafah.

    Masuk Arafah.
    1. Bermalam di Arafah menunggu waktu Wuquf.
    2. Wuquf (Tanggal 9 Dzul Hijjah).
    3. Mulai Wuquf dengan shalat Dzuhur dan Ashar dijama’ dan Qoshor, sebaiknya berjama’ah.
    4. Memperbanyak ibadah antara lain : membaca doa Wuquf, membaca Al-Qur’an dan Berdzikir.
    5. Bersiap-siap untuk mengakhiri Wuquf dan meninggalkan Arafah.
    6. Setelah selesai shalat Maghrib dan Isya’ yang di Jama’ dan di Qoshor, naik kendaraan.
    7. Mengakhiri Wukuf.
    Menuju ke Mudzdalifah.

    Di Mudzdalifah.
    1. Mencari kerikil sebanyak 49 atau 70 butir.
    2. Mabid (menunggu lewat tengah malam).
    Menuju ke Mina.

    Di Mina.
    1. Selama di Mina kewajiban Jama’ah Haji adalah melontar jumrah. 
    2. Pada tanggal 10 Dzul Hijjah hanya melontar Jumrah Aqobah saja lalu bertahallul awal dengan memotong rambut kepala paling sedikit 3 helai lalu berganti pakaian biasa.
    3. Dengan selesai tahallul awal ini maka seluruh larangan ihram telah gugur kecuali menggauli istri.
    4. Setelah tahallul awal kalau keadaan mengizinkan hendaklah pergi ke Mekkah untuk melakukan tawaf ifadlah dan sa’i, tetapi harus kembali ke Mina sebelum terbenam matahari.
    5. Pada tanggal 11 dan 12 Dzul Hijjah melontar Jumrah Ula, Wustho dan Aqobah secara berurutan, kemudian kembali ke Mekkah. Itulah yang dinamakan Nafar Awal. 
    6. Bagi jama’ah haji yang pada tanggal 13 Dzul Hijjah masih berada di Mina diharuskan melontar ketiga jumrah itu lagi, lalu kembali ke Mekkah. Itulah yang dinamakan Nafar Tsani.
    7. Bagi jama’ah haji yang belum membayar Dam hendaklah menunaikannya disini dan bagi yang mampu hendaklah memotong hewan kurban.
    Kembali ke Mekkah.
    1. Menuju Masjidil Haram untuk melakukan Tawaf Ifadlah (Tawah Rukun) dan Sa’i, bagi yang belum melakukannya.
    2. Dengan selesainya Tawah Ifadlah dan Sa’i, maka selesailah pelaksanaan ibadah haji (Tahallul Tsani).
    Tinggal di Mekkah.
    1. Menunggu keberangkatan ke Madina.
    2. Selama berada di Mekkah memperbanyak melakukan ibadah. 
    3. Tawaf Wada’ "Melakukan Tawaf Wada’(Tawaf selamat tinggal)."
    Menuju Madinah.

    Di Madinah.

    Selama di Madinah mengerjakan :
    1. Shalat Arbain (40 waktu) di Masjid Nabawi.
    2. Ziarah ketempat-tempat bersejarah, bila keadaan memungkinkan.
    3. Ziarah Wada' di Madinah : " Setelah tiba waktunya untuk meninggalkan Madinah (hari terakhir di Madinah) melakukan Ziarah wa’da ke makam Rasullulah SAW "

    MANASIK HAJI - Tata Cara Melaksanakan Ibadah Haji

     بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

    Jika ada tanda-tanda mendapat panggilan untuk menunaikan ibadah Haji, bersegeralah, tinggalkan urusan dunia untuk sementara. Menunaikan ibadah Haji, Rukun Islam Kelima, merupakan cita-cita semua orang yang beriman.

    Bagi yang beruntung mendapatkan kesempatan menunaikan Ibadah Haji, apalagi memerlukan biaya yang relatif cukup besar, maka manfaatkanlah peluang itu sebaik-baiknya karena tidak semua orang dapat meraihnya. Niatkanlah bahwa pergi menunaikan Ibadah Haji, karena melaksanakan perintah Allah SWT, dan untuk mengharapkan Ridho-Nya semata. Untuk melaksanakan Ibadah Haji yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW, dapat pembaca simak dalam rubrik ini.

    Menunaikan ibadah haji adalah sesuatu yang amat dirindukan oleh setiap umat Islam, bahkan oleh yang telah menunaikannya berkali-kali sekalipun.Karena itu, bagi yang dimudahkan Allah untuk bisa menunaikan ibadah haji tahun ini agar menggunakan kesempatan emas itu dengan sebaik-baiknya. Sebab, belum tentu kesempatan menunaikan ibadah haji itu datang kembali.

    Agar bisa beribadah haji dengan sebaik-baiknya, sekhusyu'-khusyu'nya dan memperoleh haji mabrur, di samping harus ikhlas kita harus memiliki ilmu yang cukup seputar bagaimana menjalankan ibadah haji sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam.
    Di samping memberikan tuntunan manasik haji yang benar, rubrik ini juga memperingatkan kita untuk menghindari pekerjaan-pekerjaan yang bisa merusak ibadah haji, yang ironinya banyak dilakukan jamaah haji.

    Sungguh, banyak orang yang menyesal setelah menunaikan ibadah haji. Menyesal karena menunaikan ibadah haji tanpa ilmu, atau menyesal karena kurang bersungguh-sungguh dalam beribadah di tempat yang amat mulia tersebut, menyesal karena kurang memperhatikan sunnah dsb. Maka, sebelum hal itu terjadi pada diri Anda, bacalah rubrik ini. Insya Allah, dengan demikian Anda akan memiliki bekal sebaik-baiknya dalam menunaikan ibadah haji.

    Sebagai catatan, hingga saat ini, hampir setiap umat Islam memiliki gambaran bahwa haji adalah ibadah yang sulit dan rumit. Gambaran itu tak lepas dari cara penyajian dan sistimatika pembahasan buku-buku tentang haji yang beredar selama ini. Belum lagi kesulitan-kesulitan itu memang ada yang sengaja dibuat, misalnya masalah do'a-do'a khusus pada setiap amalan, padahal Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak mengajarkannya. Juga amalan-amalan tertentu yang tidak ada dasarnya, baik dari Al-Qur'an maupun As-Sunnah yang shahih.

    Insya Allah gambaran bahwa haji itu sulit akan hilang dari benak Anda setelah membaca rubrik ini. Rubrik ini tentu sangat membantu, karena menuntun Anda secara runut apa yang harus Anda lakukan pada hari-hari haji. Misalnya, ketika hari Tarwiyah, Arafah, hari Raya, apa saja yang harus Anda lakukan, Anda bisa baca dalam Rubrik ini, dan demikian seterusnya.

    Lebih dari itu, rubrik ini akan menuntun Anda menunaikan haji sesuai dengan tuntunan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka tak berlebihan jika dikatakan, rubrik ini adalah rubrik pedoman haji yang sangat sistimatis, mudah, praktis dan lengkap.

    Mengingat pentingnya mengetahui manasik haji yang dilaksanakan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, dan sebagai wujud pelaksanaan perintah beliau:

    خُذُوْا عَنِّىمَنَاسِكَكُمْ

    "Ambillah dariku manasik haji kalian!"

    Akhir kata, semoga haji kita diterima Allah Subhannahu wa Ta'ala. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Nabi Muhammad, keluarga dan segenap sahabatnya. Amin.


    Pembaca Yang BUDIMAN

    Haji adalah salah satu dari lima rukun Islam. Ia wajib dilakukan sekali seumur hidup, berdasarkan firman Allah: 
    "Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam." (Ali Imran: 97). 
    Dan berdasarkan sabda Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
    "Islam itu dibangun di atas lima perkara; bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah dan (bersaksi) bahwa Muhammad adalah Rasulullah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa (di bulan) Ramadhan dan menunaikan haji ke Baitullah." (Muttafaq Alaih).

    Haji diwajibkan dengan lima syarat: 
    1. Islam.
    2. Berakal.
    3. Baligh.
    4. Merdeka.
    5. Mampu.
    6. Dan bagi perempuan ditambah dengan satu syarat yaitu adanya mahram yang pergi bersamanya. Sebab haram hukumnya jika ia pergi haji atau safar (bepergian) lainnya tanpa mahram, berdasarkan sabda Nabi Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam:
    "Tidak (dibenarkan seorang) wanita bepergian kecuali dengan mahramnya."
     (Muttafaq Alaih).
    Jika seorang wanita pergi haji tanpa mahram maka ia berdosa tetapi hajinya tetap sah. 

    Syarat kelima yakni mampu, meliputi kemampuan materi dan fisik. Barangsiapa tidak mampu dengan hartanya untuk memenuhi biaya perjalanan, nafkah haji dan sejenisnya maka ia tidak berkewajiban haji. Adapun orang yang mampu secara materil, tetapi tidak mampu secara fisik dan jauh harapan sembuhnya, seperti orang yang sakit menahun, orang yang cacat atau tua renta maka ia harus mewakilkan hajinya kepada orang lain. Dan disyaratkan orang yang mewakilinya sudah haji untuk dirinya sendiri. 

    Allah berfirman:
    "(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan." (Al-Baqarah: 197). 

    Rafats adalah bersetubuh atau yang merangsang kepadanya, berbuat fasik artinya berbuat maksiat, sedang yang dimaksud berbantah-bantahan adalah berbantah-bantahan secara batil atau berbantah-bantahan yang tidak ada manfaatnya, atau yang bahayanya lebih besar dari manfaatnya.

    Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 
    "Barangsiapa menunaikan haji sedang ia tidak melakukan rafats dan perbuatan fasik maka ia pulang (haji) sebagaimana hari ketika ia dilahirkan ibunya." (Muttafaq Alaih).

    Karena itu wahai Saudara Haji dan para calon tamu Allah, waspadalah dari terperosok ke dalam maksiat, baik yang besar maupun yang kecil. Seperti mengakhirkan shalat dari waktunya, ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), mencaci dan menghina, mendengarkan nyanyian, mencukur jenggot, isbal (menurunkan atau memanjangkan pakaian/kain hingga di bawah mata kaki), merokok, melihat kepada yang haram di jalan atau di telivisi. Kemudian bagi wanita, hendaknya menutupi semua tubuhnya dengan hijab syar'i (kain penutup yang di-syari'atkan) serta menjauhkan diri dari memperlihatkan aurat.

    Dengan banyaknya manusia, berdesak-desakan dan lelah, terkadang seseorang diuji dengan berbantah-bantahan yang dilarang dalam haji. Misalnya dengan petugas lalu lintas atau sopir mobil umum; ketika berdesak-desakan saat thawaf atau ketika melempar jumrah. Waspadalah dari godaan dan tipu daya setan. Berusahalah untuk selalu bersikap lembut, sabar dan berpaling dari orang-orang bodoh. Usahakan untuk tidak keluar dari lisanmu kecuali ucapan-ucapan yang baik. 

    Ketika haji, sebagian wanita tidak mengenakan jubah wanita dan ia berjalan di antara laki-laki dengan pakaiannya. Terkadang pula ia memakai celana panjang. Ia mengira bahwa hijab itu hanyalah sebatas meletakkan kerudung di atas kepala. Ini adalah pemahaman yang keliru. Lebih parah lagi, sebagian wanita pada hari Raya berhias dan berjalan di depan laki-laki dengan mengenakan pakaian yang indah. Ia mengira bahwa itu adalah bagian dari kegembiraan hari Raya. Ia tidak memahami bahwa perbuatannya itu termasuk kefasikan yang besar dalam ibadah haji. Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

    "Aku tidak meninggalkan fitnah setelahku yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada (fitnah) wanita." (Muttafaq Alaih).
    Sebagian wanita ada juga yang menganggap remeh masalah tidur di tempat-tempat umum yang membuat laki-laki bisa melihat mereka. 

    Adalah wajib bagi wanita muslimah untuk bertaq-wa kepada Allah dan membatasi diri dari laki-laki asing (bukan mahram) dengan mengenakan baju kurung lebar yang tidak ada perhiasannya, sehingga tak kelihatan sesuatu pun dari (anggota badan)nya, baik wajah, tangan atau kakinya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 

    "Wanita adalah aurat. Jika ia keluar maka setan mengawasi/mengincarnya." (HR. At-Tirmidzi dengan sanad shahih).

    Pada asalnya, istisyraf (mengincar) berarti meletakkan telapak tangan di atas alis mata serta mendongakkan kepala untuk melihat. Maknanya sesuai konteks hadits di atas- adalah jika wanita keluar rumah maka setan mengincarnya untuk menggodanya atau menggoda (laki-laki) dengan dirinya.

    Jika seorang muslim melakukan ihram haji atau umrah maka haram atasnya sebelas perkara sampai ia keluar dari ihramnya (tahallul): 
    1. Mencabut rambut. 
    2. Menggunting kuku. 
    3. Memakai wangi-wangian. 
    4. Membunuh binatang buruan (darat, adapun binatang laut maka dibolehkan). 
    5. Mengenakan pakaian berjahit (bagi laki-laki dan tidak mengapa bagi wanita). Pakaian berjahit adalah pakaian yang membentuk badan, seperti baju, kaos, celana pendek, gamis, celana panjang, kaos tangan dan kaos kaki. Adapun sesuatu yang ada jahitannya tetapi tidak membentuk badan maka hal itu tidak membahayakan muhrim (orang yang sedang ihram), seperti sabuk, jam tangan, sepatu yang ada jahitan-nya dsb. 
    6. Menutupi kepala atau wajah dengan sesuatu yang menempel (bagi laki-laki), seperti peci, penutup kepala, surban, topi dan yang sejenisnya. Tetapi dibolehkan berteduh di bawah payung, di dalam kemah dan mobil. Juga dibolehkan membawa barang di atas kepala jika tidak dimaksudkan untuk menutupinya. 
    7. Memakai tutup muka dan kaos tangan (bagi wanita). Tetapi jika di depan laki-laki asing (bukan mahram) maka ia wajib menutupi wajah dan kedua tangannya, namun dengan selain tutup muka (cadar), misalnya dengan menurunkan kerudung ke wajah dan memasukkan tangan ke dalam baju kurung. 
    8. Melangsungkan pernikahan. 
    9. Bersetubuh. 
    10. Bercumbu (bermesraan) dengan syahwat. 
    11. Mengeluarkan mani dengan onani atau bercumbu. 
    Orang Yang Melakukan Hal-hal Yang Dilarang Memiliki Tiga Keadaan:
    1. Ia melakukannya tanpa udzur (alasan), maka ia berdosa dan wajib membayar fidyah (tebusan). 
    2. Ia melakukannya untuk suatu keperluan, seperti memotong rambut karena sakit. Perbuatannya ter-sebut dibolehkan, tetapi ia wajib membayar fidyah. 
    3. Ia melakukannya dalam keadaan tidur, lupa, tidak tahu atau dipaksa. Dalam keadaan seperti itu ia tidak berdosa dan tidak wajib membayar fidyah. 
    Jika yang dilanggar itu berupa mencabut rambut, menggunting kuku, memakai wangi-wangian, bercumbu karena syahwat, laki-laki mengenakan kain yang berjahit atau menutupi kepalanya, atau wanita memakai tutup muka (cadar) atau kaos tangan maka fidyah-nya antara tiga hal. Orang yang melakukan pelanggaran itu boleh memilih salah satu daripadanya:
    1. Menyembelih kambing (untuk dibagikan kepada orang-orang fakir miskin dan ia tidak boleh memakan sesuatu pun daripadanya). 
    2. Memberi makan enam orang miskin, masing-masing setengah sha' makanan. (setengah sha' lebih kurang sama dengan 1,25 kg.). 
    3. Berpuasa selama tiga hari. 
    Dari larangan-larangan di atas, dikecualikan hal-hal berikut ini:
    1. Melangsungkan pernikahan, sebab ia hukumnya haram, maka tidak ada fidyah karenanya.
    2. Membunuh binatang buruan (darat), sebab ia hukumnya haram, dan terdapat denda jika ia membunuhnya secara sengaja. 
    3. Bersetubuh (dan ia adalah larangan yang paling besar). Jika ia melakukannya secara sengaja sebelum tahallul pertama, maka ada lima konsekuensi: 
    • Berdosa 
    • Hajinya batal.
    • Ia wajib menyempurnakan hajinya. 
    • Ia wajib mengulangi (men-qadha') hajinya pada tahun depan.
    • Ia wajib membayar fidyah berupa seekor unta yang disembelih ketika melakukan haji qadha'. 
    Macam macam Haji
    Haji ada tiga jenis; tamattu', qiran dan ifrad. Yang paling utama adalah haji tamattu'. 

    Haji tamattu' yaitu ia melakukan ihram dengan niat umrah saja pada bulan haji, setelah selesai melakukannya ia lalu melakukan ihram dengan niat haji pada hari Tarwiyah (tanggal 8 Dzul Hijjah, pen.). 

    Haji ifrad yaitu ia melakukan ihram dengan niat haji saja, ketika sampai di Makkah ia melakukan thawaf qudum, kemudian langsung melakukan sa'i haji setelah thawaf qudum . 

    Haji qiran yaitu ia melakukan ihram dengan niat umrah dan haji sekaligus. Pekerjaan orang yang menunaikan haji qiran sama dengan pekerjaan haji ifrad , kecuali dalam dua hal: 
    1. Niat. Orang yang melakukan haji ifrad hanya meniatkan haji saja, sedangkan orang yang menunaikan haji qiran meniatkan untuk umrah dan haji (secara bersamaan).
    2. Hadyu (menyembelih kurban). Orang yang menunaikan haji qiran wajib menyembelih kurban, sedangkan orang yang menunaikan haji ifrad tidak wajib hadyu (menyembelih kurban
    TATA CARA UMRAH
    Pertama: Ihram dari miqat.
    Mandilah lalu usapkanlah minyak wangi ke bagian tubuhmu, misalnya ke rambut dan jenggot. Jangan mengusapkan minyak wangi ke pakaian ihram. Jika pakaian ihram terkena minyak wangi maka cucilah. Hindarilah pakaian yang berjahit. Kenakan selendang dan kain putih, juga sandal. (Payung, kaca mata, cincin dan sabuk boleh dikenakan oleh orang yang sedang ihram).


    Adapun bagi wanita, maka ia mandi meskipun haid, lalu mengenakan pakaian yang ia kehendaki, tetapi harus memenuhi syarat hijab, sehingga tidak tampak sesuatu pun dari bagian tubuhnya. Juga tidak berhias dengan perhiasan dan tidak memakai minyak wangi serta tidak menyerupai laki-laki. 

    Jika Anda tidak mampu berhenti di miqat seperti yang melakukan perjalanan dengan pesawat terbang maka mandilah sejak di rumah, lalu jika telah mendekati miqat mulailah ihram dan ucapkanlah: 
    "Labbaika 'Umratan" artinya "Aku penuhi panggilanMu untuk menunaikan ibadah umrah."

    Jika Anda khawatir tidak bisa menyempurnakan ibadah haji karena sakit atau lainnya maka ucapkan:
    "Fa in habasanii haabisun famahallii haitsu habastanii" artinya :
    "Jika aku terhalang oleh suatu halangan maka tempat (tahallul)ku adalah di mana Engkau menahanku."

    Lalu mulailah mengucapkan talbiyah hingga sampai ke Makkah. Talbiyah hukumnya sunnah mu'akkadah (ditekankan), baik untuk laki-laki maupun wanita. Bagi laki-laki disunnahkan untuk mengeraskan suara talbiyah, dan tidak bagi wanita. Talbiyah yang dimaksud adalah ucapan: 

    "Labbaika Allahumma labbaika, Labbaika Laa Syariika laka labbaika, innal hamda wanni'mata laka wal mulka, laa syariika laka"
    "Aku penuhi panggilanMu ya Allah, aku penuhi panggilanMu. Aku penuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu, aku penuhi panggilanMu. Sesungguh-nya segala pujian dan nikmat serta kerajaan adalah milikMu, tidak ada sekutu bagiMu."

    Disunnahkan mandi sebelum masuk Makkah, jika hal itu memungkinkan.

    Untuk Jadi Perhatian:
    1. Sebagian orang mempercayai bahwa pakaian yang dikenakan wanita haruslah berwarna tertentu, misalnya hijau, hitam atau putih. Ini adalah tidak benar! Sungguh tidak ada ketentuan sedikit pun tentang warna pakaian yang harus dikenakan. 
    2. Talbiyah yang dilakukan secara bersama-sama dengan satu suara -di mana hal ini dilakukan oleh sebagian jamaah haji adalah bid'ah. Perbuatan tersebut tidak ada contohnya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, juga tidak dari salah seorang sahabatnya. Yang benar adalah hendaknya setiap Haji mengucapkan talbiyah sendiri-sendiri. 
    3. Tidak diharuskan seorang yang sedang ihram, baik laki-laki maupun wanita mengenakan terus pakaian yang ia kenakan ketika ihram sepanjang ibadahnya, tetapi dibolehkan ia menggantinya kapan dia suka. 
    4. Hendaknya setiap Haji benar-benar memper-hatikan masalah menutup aurat, sebab sebagian laki-laki terkadang auratnya terbuka di depan orang lain, misalnya ketika duduk atau tidur, sedang dia tidak merasa. 
    5. Sebagian wanita mempercayai dibolehkannya membuka wajah di depan laki-laki selama masih dalam keadaan ihram. Ini adalah keliru! Ia wajib menutupi wajahnya. Di antara dalil masalah ini adalah ucapan Aisyah radhiallahu anha:
      "Dahulu ada kafilah yang melewati kami, sedang kami dalam keadaan ihram bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika mereka telah dekat dengan kami, salah seorang dari kami mengulurkan jilbabnya ke wajahnya, dan ketika mereka telah lewat, kami membukanya kembali." (HR. Ahmad dan Abu Daud dengan sanad hasan). 
      Dan dari Asma' binti Abi Bakar radhiallahu anha, ia berkata: 
      "Kami menutupi wajah kami dari (penglihatan) laki-laki dan sebelumnya kami menyisir rambut ketika ihram." (Dikeluarkan Al-Hakim dan lainnya, atsar ini shahih).
    Kedua: Jika Anda telah sampai di Masjidil Haram, dahulukanlah kaki kananmu dan ucapkan (do'a): 
    "Allaahumma antas salaamu waminas salaamu wailaika ya’uudus salaamu fahayyinaa rabbanaa bis-salaami wa-adkhilnal jannata daaras salaami tabaarakta rabbanaa wata’aalaita yaa dzal jalaali wal-ikraami. Allaahummaftah lii abwaaba rahmatika.  Bismillaahi walhamdu lillaahi wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa rasuulillaahi."
    Artinya:
     “Ya Allah, Engkau sumber keselamatan dan daripada-Mulah datangnya keselamatan dan kepada-Mu kembalinya keselamatan. Maka hidupkanlah kami wahai Tuhan, dengan selamat sejahtera dan masukkanlah kami ke dalam surga negeri keselamatan. Maha banyak anugerah-Mu dan Maha Tinggi Engkau wahai Tuhan yang memiliki keagungan dan kehormatan. Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu (aku masuk masjid ini) dengan nama Allah disertai dengan segala puji bagi Allah serta shalawat dan salam untuk Rasulullah.”

    Ketiga: Lalu mulailah melakukan thawaf dari hajar aswad (dan atau dari tempat yang searah dengannya, pen.), kemudian menghadaplah kepadanya dan ucap-kan, 'Allahu Akbar' (Allah Mahabesar), lalu usaplah hajar aswad itu dengan tangan kananmu kemudian ciumlah. Jika Anda tidak mampu menciumnya maka usaplah hajar aswad itu dengan tanganmu atau dengan lainnya, lalu ciumlah sesuatu yang dengannya Anda mengusap hajar aswad. Jika Anda tidak mampu melaku-kannya, maka jangan mendesak orang-orang (untuk mencapainya), tetapi berilah isyarat kepada hajar aswad dengan tanganmu sekali isyarat (dan jangan Anda cium tanganmu). Lakukan hal itu dalam memulai setiap putaran thawaf. 

    Berthawaflah tujuh kali putaran dengan menjadi-kan Ka'bah di sebelah kirimu. Lakukan raml (jalan cepat dengan memendekkan langkah) pada tiga putaran pertama dan berjalanlah (biasa) pada putaran berikut-nya. Dalam semua putaran thawaf tersebut lakukanlah idhthiba' (meletakkan pertengahan kain selendang di bawah pundak kanan, dan kedua ujungnya di atas pundak kiri). Raml dan idhthiba' tersebut khusus bagi laki-laki dan hanya dilakukan pada thawaf yang pertama. Atau thawaf umrah bagi orang yang mengerjakan haji tamattu' dan thawaf qudum bagi orang yang melakukan haji qiran dan ifrad. 

    Jika Anda telah sampai ke Rukun Yamani maka usaplah dengan tanganmu jika hal itu memungkinkan, tetapi jangan menciumnya. Jika tidak bisa mengusapnya maka jangan memberi isyarat kepadanya. Dan disunnahkan ketika Anda berada di antara Rukun Yamani dan hajar aswad membaca do'a: 
     رَبَّناَ آتِناَ فىِ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفىِ الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذاَبَ النَّارِ
    "Wahai Rabb kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api Neraka."

    Dalam thawaf, tidak ada do'a-do'a khusus dari tuntunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam selain do'a di atas, tetapi memang disunnahkan memperbanyak dzikir dan do'a ketika thawaf (do'a apa saja yang dikehendaki). Jika Anda membaca ayat-ayat Al-Qur'an ketika thawaf, maka itu adalah baik.

    Untuk Jadi Perhatian: 
    1. Dalam berdoa bacalah doa yang dikehendaki, Jangan tergantung pada buku saku dari travel umrah haji dan jangan menggantungkan dileher. 
    2. Bersuci adalah syarat sahnya thawaf. Jika wudhu Anda batal di tengah-tengah melakukan thawaf, maka keluar dan berwudhulah, lalu ulangilah thawaf Anda dari awal.
    3. Jika di tengah-tengah Anda melakukan thawaf didirikan shalat, atau Anda mengikuti shalat jenazah, maka shalatlah bersama mereka lalu sempurnakanlah thawaf Anda dari tempat mana Anda berhenti. Jangan lupa menutupi kedua pundak Anda, sebab menutupi keduanya dalam shalat adalah wajib. 
    4. Jika Anda perlu duduk sebentar, atau minum air atau berpindah dari lantai bawah ke lantai atas atau sebaliknya di tengah-tengah thawaf, maka hal itu tidak mengapa. Jika Anda ragu-ragu tentang bilangan putaran, maka pakailah bilangan yang Anda yakini; yaitu yang lebih sedikit. 
    5. Jika Anda ragu-ragu apakah Anda telah melakukan thawaf tiga atau empat kali maka tetapkan-lah tiga kali, tetapi jika Anda lebih mengira bilangan tertentu maka tetapkanlah bilangan tersebut. 
    Sebagian Jamaah Haji melakukan idhthiba' sejak awal memakai pakaian ihram dan tetap seperti itu dalam seluruh manasik haji. Ini adalah keliru. Yang disyari'atkan adalah hendaknya ia menutupi kedua pundaknya, dan tidak melakukan idhthiba' kecuali ketika thawaf yang pertama, sebagaimana telah disinggung di muka. 

    Keempat: Jika Anda selesai dari putaran ketujuh, saat mendekati hajar aswad, tutuplah pundakmu yang kanan, kemudian pergilah menuju maqam Ibrahim, jika hal itu memungkinkan, lalu ucapkanlah firman Allah :
    وَاتَّخِذُواْ مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى
    "Dan jadikanlah sebagian maqam Ibrahim tempat shalat." (Al-Baqarah: 125). 

    Jadikanlah posisi maqam itu antara dirimu dengan Ka'bah, jika memungkinkan, lalu shalatlah dua rakaat. Pada raka'at pertama Anda membaca, setelah Surat Al-Fatihah- surat Al-Kafirun dan pada raka'at kedua surat Al-Ikhlash .


    Untuk Jadi Perhatian:

    1. Shalat dua raka'at thawaf hukumnya sunnah dikerjakan di belakang maqam Ibrahim, tetapi melaku-kannya di tempat mana saja dari Masjidil Haram juga dibolehkan. 
    2. Termasuk kesalahan yang dilakukan oleh sebagian jamaah haji adalah shalat di belakang maqam Ibrahim pada saat orang penuh sesak, sehingga dengan demikian menyakiti orang lain yang sedang thawaf. Yang benar, hendaknya ia mundur ke belakang sehingga jauh dari orang-orang yang thawaf, dan hendaknya ia menjadikan posisi maqam Ibrahim antara dirinya dengan Ka'bah, atau bahkan boleh melakukan shalat di mana saja di Masjidil Haram. 
    Kelima: Selanjutnya pergilah ke zam-zam dan minumlah airnya. Lalu berdo'alah kepada Allah dan tuangkan air zam-zam di atas kepalamu. Jika memungkinkan, pergilah ke hajar aswad dan usaplah.

    Keenam: Lalu pergilah menuju Shafa, dan ketika telah dekat bacalah firman Allah Ta'ala:

     إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَنْ يَطَّوَّفَ بِهِمَا وَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ  ١٥٨
    "Sesungguhnya Shafa dan Marwah merupakan sebagian syi'ar Allah]. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara keduanya. Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri lagi Maha mengetahui." (Al-Baqarah: 158)
    Kemudian ucapkanlah:
     أَبْدَأُ بِماَبَدَأَ اللهُ بِهِ 
    "Kami memulai dengan apa yang dengannya Allah memulai."
    Kemudian naiklah ke (bukit) Shafa dan menghadaplah ke Ka'bah lalu bertakbirlah tiga kali dan ucapkan:
    لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ , لَهُ المُلْكُ وَلَهُ الحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيْتُ بِيَدِهِ الخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ 

    لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزاَبَ وَحْدَهُ
    "Tiada sesembahan yang haq melainkan Allah semata, tiada sekutu bagiNya, hanya bagiNya segala kerajaan dan hanya bagiNya segala puji dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada sesembahan yang haq melainkan Dia, tiada sekutu bagiNya, yang menepati janjiNya, yang memenangkan hambaNya dan yang menghancurkan golongan-golongan (kafir) dengan tanpa dibantu siapa pun."

    Ulangilah dzikir tersebut sebanyak tiga kali dan berdo'alah pada tiap-tiap selesai membacanya dengan do'a-do'a yang Anda kehendaki.

    Ketujuh: Kemudian turunlah untuk melakukan sa'i antara Shafa dan Marwah. Bila Anda berada di antara dua tanda hijau, lakukanlah sa'i dengan berlari kecil (khusus untuk laki-laki dan tidak bagi wanita). Jika Anda telah sampai di Marwah, naiklah ke atasnya dan menghadaplah ke Ka'bah, kemudian ucapkan sebagaimana yang Anda ucapkan di Shafa. Demikian hendaknya yang Anda lakukan pada putaran berikut-nya. Pergi (dari Shafa ke Marwah) dihitung satu kali putaran dan kembali (dari Marwah ke Shafa) juga dihitung satu kali putaran hingga sempurna menjadi tujuh kali putaran. Karena itu, putaran sa'i yang ke tujuh berakhir di Marwah. Tidak ada dzikir (do'a) khusus untuk sa'i, karena itu perbanyaklah dzikir dan do'a serta membaca Al-Qur'an.

    Untuk Jadi Perhatian:
    Ada dua bid'ah saat thawaf dan sa'i yang tersebar di sebagian orang:
    • Terpaku dengan do'a-do'a tertentu pada setiap putaran, sebagaimana ditemukan dalam buku-buku kecil.
    • Jama'ah haji berdo'a bersama-sama dengan di-komando oleh seorang pemimpin (rombongan) dengan koor (satu suara) dan keras.
    Para Haji hendaknya mewaspadai kedua bid'ah di atas, sebab tidak ada tuntunannya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, juga tidak dari salah seorang sahabatnya .

    Kedelapan: Jika selesai mengerjakan sa'i cukurlah rambut Anda (sampai bersih) atau pendekkanlah. Bagi orang yang menunaikan umrah, mencukur (gundul) rambut adalah lebih utama, kecuali jika waktu haji sudah dekat, maka memendekkan rambut lebih utama, sehing-ga mencukur (gundul) rambut dilakukan pada waktu haji. Dan tidak cukup memendekkan rambut hanya beberapa helai pada bagian depan kepala dan bela-kangnya sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian jama'ah Haji, tetapi hendaknya memendekkan tersebut dilakukan pada seluruh rambut atau pada sebagian besarnya. Adapun bagi wanita, maka hendaknya ia mengumpulkan rambutnya dan mengambil daripadanya kira-kira seujung jari. Jika rambutnya keriting (tidak sama panjang ujungnya) maka harus diambil dari tiap-tiap kepangan (genggaman).

    Jika hal di atas telah Anda lakukan, berarti Anda telah menyelesaikan umrah. Dan segala puji adalah milik Allah semata.

    Untuk Jadi Perhatian:
    Termasuk kesalahan yang dilakukan oleh sebagian jama'ah Haji adalah mengulang-ulang umrah ketika sampai di Makkah. Yang demikian itu bukanlah tun-tunan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, juga bukan tuntunan para sahabatnya. Seandainya pun di dalamnya ada keutamaan, tentu mereka telah melakukannya mendahului kita.

    Menuju Mina pada HARI TARWIYAH
    Hari tarwiyah adalah hari kedelapan dari bulan Dzul Hijjah. Disebut demikian karena pada hari itu orang-orang mengenyangkan diri dengan minum air untuk (persiapan ibadah) selanjutnya.

    Pekerjaan-pekerjaan pada hari tarwiyah:

    Disunnahkan bagi orang yang menunaikan haji tamattu' untuk melakukan ihram haji pada hari tersebut, yakni dari tempat di mana ia singgah. Maka, hendaknya ia mandi dan mengusapkan wewangian di tubuhnya, tidak mengenakan kain yang berjahit, dan ia ihram dengan selendang, kain dan sandal. Adapun bagi wanita, maka hendaknya ia mandi dan menggunakan pakaian apa saja yang dikehendakinya dengan syarat tidak menampakkan perhiasannya, tidak memakai penutup muka, juga tidak memakai kaos tangan.

    Selanjutnya Anda mengucapkan: لَبَّيْكَ اللَّـهُمَّ حَجاًّ (Aku penuhi panggilanMu untuk menunaikan ibadah haji). Jika ditakutkan ada halangan maka Anda disunnahkan memberi syarat dengan mengucapkan:
    "Fa in habasanii haabisun famahallii haitsu habastanii" 
    "Jika aku terhalang oleh suatu halangan maka tempat (tahallul)ku adalah di mana Engkau menahanku."
    Selanjutnya ucapkanlah talbiyah:

    "Labbaika Allahumma labbaika, Labbaika Laa Syariika laka labbaika, innal hamda wanni'mata laka wal mulka, laa syariika laka"
    "Aku penuhi panggilanMu ya Allah, aku penuhi panggilanMu, aku penuhi panggilanMu, tidak ada sekutu bagiMu, aku penuhi panggilanMu. Sesungguh-nya segala puji, kenikmatan dan kerajaan adalah milikMu, tidak ada sekutu bagiMu."

    Demikian Anda terus mengumandangkan talbiyah. Bagi laki-laki disunnahkan untuk mengeraskan suara talbiyah, dan tidak bagi wanita. sampai Anda melempar jumrah aqabah pada hari Nahar (kurban).

    Pada malam ini Anda disunnahkan bermalam di Mina.

    Dan di Mina, Anda disunnahkan menunaikan shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya' dan Shubuh pada hari Arafah, semuanya dilakukan dengan qashar, tanpa jama'.

    Setiap Jamaah Haji hendaknya memanfaatkan waktu-waktu luangnya untuk sesuatu yang bermanfaat. Seperti mendengarkan ceramah agama, membaca Al-Qur'an, membaca buku tentang manasik haji dsb.

    HARI ARAFAH
    Jika matahari terbit pada hari Arafah (hari kesembilan dari bulan Dzul Hijjah), maka setiap Haji berangkat dari Mina ke Arafah, seraya mengumandang-kan talbiyah atau takbir. Hal itu sebagaimana telah dilakukan oleh para sahabat, sedang mereka bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam; ada yang mengumandangkan talbiyah dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mengingkarinya, ada yang bertakbir dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga tidak mengingkarinya.

    Jika matahari telah tergelincir, maka ia shalat Zhuhur dan Ashar secara jama' qashar dengan satu adzan dan dua iqamat. Sebelum shalat, imam menyampaikan khutbah yang materinya sesuai dengan keadaan (ibadah haji, pen.).

    Setelah shalat, setiap Haji menyibukkan diri dengan dzikir, do'a dan merendahkan diri kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala. Sebaiknya berdo'a dengan mengangkat kedua tangan dan menghadap kiblat hingga terbenamnya matahari. Demikian seperti yang dilakukan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

    Karena itu, setiap Haji hendaknya tidak menyia-nyiakan kesempatan yang agung ini. Hendaknya ia mengulang-ulang serta memperbanyak do'a, juga hendaknya ia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sejujur-jujurnya.

    Keutamaan hari Arafah:
    Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:  الْحَجُّ عَرَفَةُ "Haji adalah Arafah." (HR. Ahmad dan para penulis kitab Sunan, shahih).

    Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
    مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللهُ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ المَلاَئِكَةُ فَيَقُولُ : مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟ – رواه مسلم
    "Tidak ada hari yang ketika itu Allah lebih banyak membebaskan hamba dari (siksa) Neraka selain hari Arafah. Dan sungguh ia telah dekat, kemudian Allah membanggakan mereka di hadapan para malaikat, seraya berfirman, 'Apa yang mereka kehendaki?'" (HR. Muslim).

    Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
    َفْضَلُ مَا قُلْتُ أَنَا وَالنَّبِيُّوْنَ عَشِيَّةَ عَرَفَةَ، لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ،
    "Yang paling utama aku ucapkan, juga yang diucapkan oleh para nabi pada sore hari Arafah adalah, 'Tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, bagiNya kerajaan dan segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu'." (HR. Malik dan lainnya, shahih).

    Untuk Jadi Perhatian:
    1. Hendaknya setiap Haji yakin bahwa dirinya benar-benar berada di wilayah Arafah. Batasan-batasan Arafah itu dapat diketahui dengan spanduk-spanduk besar yang ada di sekeliling Arafah.
    2. Masjid Namirah tidak semuanya berada di wilayah Arafah, tetapi sebagiannya berada di wilayah Arafah (bagian belakang masjid), dan sebagian lain berada di luar Arafah (bagian depan masjid).
    3. Sebagian orang mengira jika jabal (bukit) Arafah (biasa disebut jabal Rahmah, pen.) memiliki keutamaan. Ini adalah tidak benar.
    4. Sebagian Haji tergesa-gesa, sehingga keluar dari Arafah menuju Muzdalifah sebelum tenggelamnya matahari. Ini adalah salah. Yang wajib adalah tinggal di Arafah hingga tenggelamnya matahari.
    BERMALAM DI MUZDALIFAH
    Jika matahari telah tenggelam pada hari Arafah maka para Haji berduyun-duyun (meninggalkan) Arafah menuju Muzdalifah dengan tenang, diam dan tidak berdesak-desakan. Jika telah sampai Muzdalifah ia shalat Maghrib dan Isya' secara jama' qashar dengan satu adzan dan dua iqamat.

    Diharamkan mengakhirkan shalat Isya' hingga lewat pertengahan malam, berdasarkan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:
    وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ الأَوْسَطِ
    "Waktu Isya' adalah sampai pertengahan malam." (HR. Muslim).

    Jika ia takut akan lewatnya waktu, hendaknya ia shalat Maghrib dan Isya' di tempat mana saja, meskipun di Arafah.

    Lalu ia bermalam di Muzdalifah hingga terbit fajar. Kemudian ia shalat Shubuh di awal waktunya, lalu menuju Masy'aril Haram, yaitu bukit yang berada di Muzdalifah, jika hal itu memungkinkan baginya. Jika tidak, maka seluruh Muzdalifah adalah mauqif (tempat berhenti yang disyari'atkan). Di sana hendaknya ia menghadap kiblat dan memanjatkan pujian kepada Allah, bertakbir, mengesakan dan berdo'a kepadaNya. Jika pagi telah tampak sangat menguning, sebelum terbit matahari, para Haji berangkat menuju Mina dengan mengumandangkan talbiyah, demikian ia terus ber-talbiyah hingga sampai melempar jumrah aqabah.

    Adapun bagi orang-orang yang lemah dan para wanita maka mereka dibolehkan langsung menuju Mina pada akhir malam. Hal itu berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, ia berkata:
    "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengutusku ketika akhir waktu malam dari rombongan orang-orang (di Muzdalifah) dengan membawa perbekalan Nabiullah shallallahu 'alaihi wa sallam." (HR. Muslim).
    Dan adalah Asma' binti Abu Bakar radhiyallahu anhuma berangkat dari Muzdalifah setelah tenggelamnya bulan. Sedangkan tenggelamnya bulan adalah terjadi kira-kira setelah berlalunya dua pertiga malam.

    Untuk Jadi Perhatian:
    1. Sebagian orang mempercayai bahwa batu-batu kerikil untuk melempar jumrah diambil dari sejak kedatangan mereka di Muzdalifah. Ini adalah kepercayaan yang salah dan tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Batu-batu kerikil itu boleh diambil dari tempat mana saja.
    2. Sebagian orang mengira bahwa pertengahan malam adalah pukul dua belas malam. Ini adalah keliru. Yang benar, pertengahan malam adalah separuh dari seluruh jam yang ada pada malam hari. Kalau dihitung secara matematika adalah sebagai berikut: (Keseluruhan jam yang ada pada malam hari: 2 + waktu tenggelamnya matahari = pertengahan malam). Jika matahari tenggelam pada pukul enam sore misalnya, sedangkan terbitnya fajar pada pukul lima pagi maka pertengahan malamnya adalah pukul sebelas lebih tiga puluh menit. (Keseluruhan jam yang ada pada malam hari, yakni 11 jam : 2 + waktu tenggelamnya matahari, yakni pukul 6 = 11, 30 menit).
    3. Di antara penyimpangan yang menyedihkan pada malam tersebut adalah bahwa sebagian Hujjaj mendirikan shalat Shubuh sebelum tiba waktunya, padahal shalat itu tidak sah jika dilakukan sebelum masuk waktunya.
    4. Hendaknya setiap Haji meyakini benar bahwa ia berada di wilayah Muzdalifah. Hal itu bisa diketahui melalui spanduk-spanduk besar yang ada di sekeliling Muzdalifah.
    HARI RAYA QURBAN
    Beberapa amalan pada hari Raya Qurban adalah:
    1. Melempar jumrah aqabah.
    2. Menyembelih hadyu (bagi orang yang melakukan haji tamattu' dan qiran).
    3. Mencukur (gundul) rambut kepala atau memendekkannya, tetapi mencukur (gundul) adalah lebih utama.
    4. Thawaf ifadhah dan sa'i untuk haji.
    Peringatan Penting:
    • Tertib di atas adalah sunnah, dan kalau tidak dikerjakan secara tertib juga tidak mengapa. Seperti orang yang mendahulukan thawaf daripada mencukur rambut, atau mendahulukan mencukur rambut dari-pada melempar jumrah, atau mendahulukan sa'i daripada thawaf, atau lainnya.
    • Melempar jumrah aqabah adalah dengan tujuh batu kerikil dengan secara berurutan. Ia mengangkat tangannya dan mengucapkan takbir setiap kali melempar batu kerikil. Disunnahkan ia menghadap ke jumrah dan menjadikan Makkah berada di sebelah kirinya dan Mina berada di sebelah kanannya.
    • Waktu melempar jumrah aqabah baik mereka yang kuat (fisiknya) adalah dimulai dari setelah terbitnya matahari. Hal itu berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhu ia berkata:
      "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mendahulukan kami anak-anak Bani Abdul Muththalib pada malam Muzdalifah dengan mengendarai keledai, maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menepuk paha-paha kami seraya bersabda: "Wahai anak-anakku, jangan kalian melempar jumrah sehingga matahari terbit." (HR. Abu Daud , Shahih Sunan Abi Daud).
    • Adapun para wanita dan mereka yang lemah maka dibolehkan melempar sejak kedatangan mereka di Mina pada akhir malam. Hal itu berdasarkan hadits Asma' radhiyallahu anha, dari Abdullah pelayan Asma' dari Asma':
      "Bahwasanya ia singgah pada malam perkumpulan di Muzdalifah, lalu ia berdiri menegakkan shalat, ia shalat sejenak kemudian bertanya, 'Wahai anakku, apakah bulan telah tenggelam?' 'Belum', jawabku. Ia lalu shalat sejenak kemudian bertanya, 'Apakah bulan telah tenggelam?' 'Sudah', jawabku. Ia berkata, 'Kalau begitu berangkatlah.' Maka kami berangkat dan pergi hingga ia melempar jumrah. Kemudian ia pulang dan shalat Shubuh di rumahnya. Maka kutanyakan padanya, 'Sungguh, kami tidak mengira kecuali bahwa kita telah melempar (jumrah) pada malam hari'. Ia menjawab, 'Wahai anakku, sesungguhnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengizin-kannya untuk kaum wanita'." (Muttafaq Alaih).
    • Waktu melempar jumrah aqabah berlanjut hingga zawal (waktu tergelincirnya matahari dari pertengahan langit,dan itulah waktu permulaan shalat zhuhur). Dan dibolehkan melempar setelah zawal meskipun meskipun di malam hari, jika menemui kesulitan untuk melemparnya sebelum zawal.
    • Jumrah aqabah, penampungan (batu kerikil)nya adalah separuh penampungan. Karena itu ia harus yakin bahwa batu-batu kerikilnya masuk ke dalam penampungan tsb., tetapi jika setelah itu tergelincir (keluar) maka tidak mengapa.
    • Disunnahkan untuk segera menyembelih hadyu, mencukur rambut, thawaf dan sa'i, tetapi jika diakhirkan hingga setelah hari Raya Kurban maka tidak mengapa.
    • Menyembelih hadyu adalah wajib bagi yang melakukan haji tamattu' dan qiran. Adapun yang melakukan haji ifrad maka tidak wajib menyembelih hadyu. Orang yang tidak bisa menyembelih hadyu diwajibkan puasa tiga hari pada waktu haji dan tujuh hari ketika mereka pulang kepada keluarganya.
    • Penyembelihan itu tidak harus dilakukan di Mina, tetapi boleh dilakukan di Makkah atau tanah suci lainnya (Madinah, pen.). Dibolehkan pula bagi tujuh orang untuk berserikat dalam satu ekor unta atau sapi. Disunnahkan untuk menyembelih sendiri dengan tangannya, tetapi jika diwakilkan kepada yang lain maka hal itu dibolehkan. Disunnahkan pula untuk menelentangkan hadyu (sapi atau kambing) pada sisi kirinya dan menghadap-kannya ke kiblat, sedang telapak kaki (orang yang menyembelih) diletakkan di atas leher hewan tersebut. Adapun unta, maka disunnahkan ketika menyembelihnya dalam keadaan berdiri, tangan kirinya diikat serta dihadapkan ke kiblat. Ketika menyembelih, disyaratkan menyebut nama Allah, dan disunnahkan untuk menambahkannya dengan bacaan:
    بِسمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ إنَّ هَذِهِ مِنكَ وَلَكَ اللَّهُمَّ تَقَبَّل مِنِّي،
    "Dengan nama Allah, Allah Mahabesar, ya Allah, sesungguhnya ini adalah dariMu dan milikMu, ya Allah kabulkanlah (kurban) dari kami (ini)."
    • Waktu penyembelihan masih terus berlangsung hingga tenggelamnya matahari dari akhir hari tasyriq, yaitu tanggal 13 Dzul Hijjah.
    • Thawaf di Ka'bah adalah tujuh kali, sebagaimana thawaf ketika umrah, tetapi tidak dengan raml (jalan cepat) dan idhthiba' (menyelempangkan selen-dang). Lalu disunnahkan untuk melakukan shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim, jika hal itu memungkinkan. Jika tidak, maka boleh melakukan shalat di tempat mana saja dari Masjidil Haram.
    • Sa'i antara Shafa dan Marwah adalah tujuh putaran, tata caranya sebagaimana yang ada pada sa'i untuk umrah. Adapun orang yang melakukan haji qiran dan ifrad maka cukup baginya sa'i yang pertama, jika mereka telah melakukan sa'i pada thawaf qudum.
    • Mencukur harus mengenai semua rambut. Adapun bagi wanita, maka ia cukup menghimpun semua rambutnya lalu memotong ujungnya kira-kira seujung jari. Jika ujung rambutnya tidak sama pan-jangnya maka bisa dipotong dari setiap kepangan (genggaman) rambut.
    • Jika seorang Haji telah melempar jumrah aqabah dan mencukur atau menggunting rambut maka ia telah tahallul awal. Artinya, boleh baginya melakukan segala sesuatu dari yang dilarang ketika ihram kecuali masalah wanita. Dan disunnahkan baginya untuk membersihkan diri dan memakai wangi-wangian sebelum thawaf. Kemudian, jika ia telah melempar, mencukur atau menggunting rambut, thawaf dan sa'i berarti ia telah tahallul tsani , yang dengan demikian dihalalkan baginya segala sesuatu hingga masalah wanita (hubungan suami isteri).
    HARI-HARI TASYRIQ
    1. Wajib bermalam di Mina pada malam-malam hari tasyriq, yakni malam ke-11 dan ke-12 (bagi yang terburu-buru) serta malam ke-13 (bagi yang meng-akhirkan/tetap tinggal).
    2. Wajib melempar jumrah pada hari-hari tasyriq, caranya adalah sebagai berikut:
    • Setiap Haji melempar ketiga jumrah (ula, wustha, aqabah) pada setiap hari dari hari-hari tasyriq setelah tergelincirnya matahari. Yakni dengan tujuh batu kerikil secara berurutan untuk masing-masing jumrah, dan hendaknya ia bertakbir setiap kali melempar. Dengan demikian jumlah batu kerikil yang wajib ia lemparkan setiap harinya adalah 21 batu kerikil. (Ukuran batu kerikil tersebut lebih besar sedikit dari biji kacang).
    • Jama'ah haji memulai dengan melempar jumrah ula, yakni jumrah yang letaknya dekat masjid Al-Khaif, kemudian hendaknya ia maju ke sebelah kanan seraya berdiri dengan menghadap kiblat. Di sana hendaknya ia berdiri lama untuk berdo'a dengan mengangkat tangan. Lalu ia melempar jumrah wustha , kemudian mencari posisi di sebelah kiri dan berdiri menghadap kiblat. Di sana hendaknya ia berdiri lama untuk berdo'a seraya mengangkat tangan. Selanjutnya ia melempar jumrah aqabah dengan menghadap kepadanya serta menjadikan kota Makkah berada di sebelah kirinya dan Mina di sebelah kanannya. Di sana ia tidak berhenti (untuk berdo'a). Demikianlah, hal yang sama hendaknya ia lakukan pada tanggal 12 dan 13 Dzul Hijjah.
     Untuk Jadi Perhatian:
    1. Adalah salah, membasuh batu-batu kerikil (sebelum melemparkannya), sebab yang demikian itu tidak ada keterangannya dari Nabi SAW, juga tidak dari para sahabatnya.
    2. Yang menjadi ukuran (benarnya lemparan) adalah jatuhnya batu kerikil ke dalam penampungan, dan bukan melempar tiang yang ada di tengah-tengah penampungan (batu kerikil).
    3. Waktu melempar jumrah adalah dimulai dari sejak tergelincirnya matahari hingga terbenamnya, tetapi tidak mengapa melemparnya hingga malam hari, jika hal itu memang diperlukan. Hal itu berdasar-kan sabda Nabi shallallahu 'alaihi wasallam :            "Penggembala melempar (jumrah) pada malam hari dan menggembala (ternaknya) di siang hari." (Hadits hasan, As-Silsilah Ash-Shahihah, 2477).
    4. Tidak boleh mewakilkan dalam melempar jumrah kecuali ketika dalam keadaan lemah (tak mampu) atau takut akan bahaya karena telah lanjut usia, sakit, masih kecil atau sejenisnya. Dan ketika mewakili, hendaknya ia melempar jumrah ula sebanyak tujuh kali untuk dirinya sendiri terlebih dahulu, lalu melemparkan untuk orang yang diwakilinya. Demikian pula hendaknya yang ia lakukan dalam jumrah wustha dan aqabah (jika mewakili orang lain). Adapun sebagian orang pada saat ini yang dengan mudahnya mewakilkan melempar jumrah adalah hal keliru. Orang yang takut berdesak-desakan dengan laki-laki dan perempuan maka hendaknya ia pergi melempar pada saat-saat yang sepi, misalnya ketika malam hari.
    5. Hendaknya melempar ketiga jumrah tersebut secara tertib, yakni shughra kemudian wustha lalu aqabah.
    6. Sungguh keliru orang yang mencaci dan men-cerca ketika melempar jumrah, atau melempar dengan sepatu, payung dan batu besar, serta kepercayaan sebagian orang bahwa setan diikat pada tiang yang ada di tengah penampungan batu kerikil.
    7. Bermalam yang wajib dilakukan di Mina adalah dengan tinggal di sana pada sebagian besar waktu malam. Misalnya, jika seluruh waktu malam adalah sebelas jam maka ia wajib tinggal di Mina lebih dari lima jam 30 menit.
    8. Diperbolehkan bagi orang yang tergesa-gesa untuk meninggalkan Mina pada tanggal 12 Dzul Hijjah, yakni setelah melempar jumrah dan hendaknya ia keluar dari Mina sebelum tenggelamnya matahari. Jika matahari telah tenggelam dan ia masih berada di Mina maka ia wajib bermalam dan melempar lagi keesokan harinya, kecuali jika ia telah bersiap-siap meninggalkan Mina lalu matahari tenggelam karena jalan macet atau sejenisnya maka ia dibolehkan tetap pergi dan hal itu tidak mengapa baginya.
    TANGGAL 12 DZUL HIJJAH
    Jika Anda telah selesai melempar jumrah pada tanggal 12 Dzul Hijjah, lalu Anda ingin bersegera maka Anda dibolehkan keluar dari Mina sebelum matahari tenggelam, tetapi jika Anda ingin tetap tinggal maka hal itu lebih utama. Bermalamlah (sehari lagi) di Mina pada tanggal 13 Dzul Hijjah, dan lemparlah ketiga jumrah (ula, wustha, aqabah) setelah tergelincir-nya matahari dan sebelum matahari tenggelam, sebab hari-hari tasyriq berakhir dengan tenggelamnya matahari.

    Jika matahari telah tenggelam pada tanggal 12 Dzul Hijjah (hari kedua dari hari-hari tasyriq) dan Anda masih berada di Mina maka Anda wajib bermalam kembali di Mina pada malam itu kemudian melempar jumrah keesokan harinya, kecuali jika Anda telah bersiap-siap berangkat, tetapi jalan macet misalnya sehingga matahari tenggelam maka Anda dibolehkan keluar dari Mina dan hal itu tidak mengapa bagi Anda.

    Ketika Anda hendak meninggalkan Makkah, Anda wajib melakukan thawaf wada' sebanyak tujuh kali putaran, setelahnya Anda disunnahkan shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim.

    Perempuan yang sedang haid atau nifas tidak diwajibkan melakukan thawaf wada'.

    Dengan demikian selesailah pekerjaan-pekerjaan haji.



    RINGKASAN RUKUN, WAJIB UMROH DAN HAJI
    Rukun umroh:
    1. Ihram (niat masuk atau memulai untuk beribadah).
    2. Thawaf.
    3. Sa'i.
    Wajib umroh:
    1. Ihram dari miqat.
    2. Mencukur (gundul) rambut atau memendekkannya.
    Rukun haji:
    1. Ihram.
    2. Wukuf di Arafah.
    3. Thawaf ifadhah.
    4. Sa'i.
    Wajib haji:
    1. Ihram dari miqat.
    2. Wukuf di Arafah hingga tenggelamnya matahari bagi yang wukuf di siang hari.
    3. Bermalam di Muzdalifah.
    4. Bermalam pada malam-malam tasyriq di Mina.
    5. Melempar jumrah (jumrah aqabah pada waktu hari Raya Kurban, dan jumrah ula, wustha serta aqabah pada hari-hari tasyriq secara tertib).
    6. Mencukur (gundul) rambut atau memendekkannya.
    7. Menyembelih hadyu (bagi yang melakukan haji tamattu' dan qiran, tidak bagi yang melakukan haji ifrad).
    8. Thawaf wada'.
    Untuk Jadi Perhatian:
    Di muka telah disebutkan bahwa di antara wajib umrah dan haji adalah ihram dari miqat Ketentuan ini adalah bagi mereka yang datang dari wilayah yang berada di belakang miqat. Adapun bagi yang datang dari sebelumnya maka ia berihram dari tempatnya, bahkan hingga penduduk Makkah, mereka berihram dari Makkah, kecuali dalam umrah. Orang yang berada di Makkah dan hendak melakukan umrah maka ia keluar dari Makkah (tanah haram) kemudian berihram dari tempat tersebut.

    PERTANYAAN-PERTANYAAN PENTING YANG BANYAK DITANYAKAN ORANG:

    Apa hukum orang yang memakai wangi-wangian atau menutup kepalanya atau mengenakan pakaian berjahit atau mencabut rambutnya karena lupa atau tidak mengerti (hukumnya) sedang dia dalam keadaan ihram?
    Barangsiapa melakukan suatu larangan dari larangan-larangan ihram karena lupa atau tidak mengerti (hukumnya) maka ia tidak diwajibkan apa-apa karenanya. Hal itu berdasarkan firman Allah: 
    "Wahai Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah", Ibnu Abbas berkata, 'Ketika ayat ini turun, Allah berfirman, 'Aku telah melakukannya'." (HR. Muslim, no. 126). 
    Apakah cukup dalam memendekkan (rambut), baik dalam haji maupun umrah dengan memendekkan bagian depan atau belakang kepala? 
    Yang demikian itu tidak cukup. Ia wajib mencukur atau memendekkan rambut kepala secara menyeluruh. Hal itu berdasarkan firman Allah: 
    "Dengan mencukur rambut kepala dan menggunting (memendekkannya)." (Al-Fath: 27).
    Bagaimana tata cara shalat jenazah?


    Tata cara shalat jenazah secara ringkas adalah bertakbir empat kali sedang ia dalam keadaan berdiri kemudian salam. Pada takbir pertama ia mengangkat kedua tangan-nya kemudian membaca Al-Fatihah, kemudian pada takbir kedua ia membaca shalawat atas Nabi SAW, dan pada takbir ketiga ia mendo'akan jenazah agar diampuni dan diberi rahmat, jika ia berdo'a dengan apa yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam maka hal itu lebih baik, lalu ia bertakbir untuk keempat kalinya dan mengucapkan salam ke sebelah kanannya. 

     
    UMROH HEMAT 2016 U$D.2.000 BERANGKAT MARET 2016